(Taiwan, ROC) -- Harga emas internasional baru-baru ini mencapai rekor tertinggi baru, ditambah dengan depresiasi NTD terhadap dolar AS, harga emas lokal pun mencapai rekor tertinggi baru pada 11 Februari lalu, yaitu NT$12.000 per qian (錢 - sekitar 3,75gr). Beberapa analis internasional percaya, bahwa harga emas internasional dapat mencapai US$3.250 – US$3.500 per ounce (sekitar 31 gr). Terkait dengan hal ini, Taiwan Jewelers Association Kota Taipei meyakini, bahwa kisaran harga US$3.500 dapat menjadi perkiraan jangka panjang. Jika harga emas mencapai level tersebut di tahun ini, artinya ekonomi global sedang berada di kondisi yang sangat buruk.
Presiden Trump telah memenuhi janji kampanyenya dengan serangkaian kebijakan tarif. Pada hari Senin, ia mengumumkan tarif sebesar 25% untuk semua produk baja dan aluminium yang diimpor ke Amerika Serikat, tanpa pengecualian apa pun. Selanjutnya, ia mungkin mengenakan "tarif timbal balik" pada negara-negara dengan defisit perdagangan yang besar, dan selanjutnya mengenakan tarif tambahan pada bahan-bahan strategis seperti semikonduktor dan minyak. Beberapa negara yang dikenai tarif tambahan tersebut mengancam akan membalas. Perang tarif global telah dimulai.
Kebijakan tarif Trump telah menyebabkan inflasi di seluruh dunia. Harga emas internasional baru-baru ini mencapai titik tertinggi baru. Pada perdagangan awal tanggal 12, harga emas sempat menyentuh US$2.900 per ounce, tapi kemudian turun. Phillip Streible, kepala strategi pasar di platform perdagangan Blue Line Futures menyampaikan, bahwa harga emas dapat mencapai US$3.250 – US$3.500.
Wakil Ketua Taiwan Jewelers Association Kota Taipei, Shi Wen-xin (石文信) menunjukkan bahwa dilihat dari tren harga emas selama 20 tahun terakhir, setiap kali harga emas menembus angka US$1.000, itu merupakan suatu peristiwa besar. Pada tahun 2008, krisis keuangan melanda Amerika Serikat. Saat itu, untuk menyelamatkan ekonomi AS, Federal Reserve tidak hanya mengumumkan pemangkasan suku bunga menjadi nol, tetapi juga meluncurkan kebijakan pelonggaran kuantitatif (QE) untuk pertama kalinya dalam sejarah, yang membantu harga emas melonjak dan secara resmi menembus angka US$1.000 per ounce.
Jika ditelusuri lebih lanjut, pada akhir tahun 2019, wabah COVID-19 global merebak, yang mendorong harga emas terus naik. Pada pertengahan tahun 2020, hubungan AS-Tiongkok semakin memburuk, menyebabkan harga emas melonjak ke harga tertinggi saat itu, yaitu US$2.075 per ounce. Harga kemudian turun sedikit, tetapi pada tahun 2022, Rusia mengirim pasukan untuk menginvasi Ukraina. Harga emas sekali lagi dengan cepat menembus angka $2.000 per ounce. Sejak saat itu, selama hampir setahun, harga emas tetap berada di atas US$2.000 dan dengan cepat mencapai hampir US$3.000.
Shi Wenxin percaya bahwa jika harga emas stabil di US$3.000, itu akan menjadi rintangan historis besar lainnya. Meskipun sebagian besar lembaga penelitian percaya bahwa harga emas dapat menembus US$3.000 tahun ini, diperkirakan akan ada ruang terbatas untuk pertumbuhan lanjutan setelah menembusnya. Jika benar-benar menembus level harga US$3.500, itu berarti perang tarif telah menjerumuskan ekonomi global ke dalam resesi yang sangat buruk.
Harga emas lokal, juga telah naik ke level tertinggi baru NT$12.000 per qian. Shi Wen-xin menyampaikan, jika tidak ada perubahan signifikan minggu depan, diperkirakan akan ada gelombang "penjualan emas" untuk mendapatkan keuntungan.