(Taiwan, ROC) --- Awalnya, Amerika Serikat berencana mengenakan tarif tambahan kepada pihak Kanada dan Meksiko terhitung 4 Februari 2025. Namun, setelah kedua pemimpin negara tersebut melakukan pertemuan, Presiden Donald Trump memutuskan untuk menunda penerapannya selama satu bulan. Para akademisi menganalisis, penundaan ini dikarenakan kedua pemimpin negara bersangkutan bersedia mengambil tindakan nyata untuk menangani persoalan narkoba dan imigrasi ilegal.
Jika perang tarif dimulai, maka hal tersebut tentu tidak akan memberikan banyak keuntungan bagi AS. Para akademisi menekankan, Taiwan tidak memiliki poin negosiasi, layaknya Kanada dan Meksiko, sehingga perlu segera melakukan evaluasi dan mempertimbangkan industri mana yang cocok untuk berinvestasi di AS.
Sebelumnya, Presiden Donald Trump memerintahkan pengenaan tarif tambahan terhadap produk dari Tiongkok, Kanada dan Meksiko terhitung Selasa hari ini (4/2). Namun menjelang implementasi perintah tarif tersebut, pemerintah Amerika Serikat, Meksiko dan Kanada, berkomitmen untuk memperkuat langkah-langkah di kawasan perbatasan untuk menghentikan pergerakan imigrasi dan distribusi narkoba. Sebelumnya, Presiden Donald Trump juga telah berbicara dengan Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum dan Presiden Kanada Justin Trudeau. Penerapan tarif AS terhadap kedua negara tersebut akan ditunda selama 1 bulan.
Sedangkan untuk Tiongkok, Donald Trump mengatakan kemungkinan akan melakukan dialog dengan Tiongkok dalam waktu 24 jam sebelum mengenakan tarif. Pada Selasa hari ini (4/2), Kepala Research Center for Taiwan Economic Development yang berada di bawah naungan Universitas Nasional Chung Yang, Wu Da-ren (吳大任), menjelaskan bahwa Donald Trump mungkin tidak menduga jika Kanada dan Meksiko akan benar-benar mengambil tindakan balasan, seperti Kanada yang akan berencana membalas dengan penerapan tarif sebesar 25%.
Mengingat hubungan perdagangan antara ketiga negara yang terbilang sangat erat, maka jika perang tarif dimulai, hal ini juga tidak akan menguntungkan AS. Wu Da-ren menerangkan, jalinan perdagangan dengan AS mendatangkan surplus perdagangan yang besar bagi Taiwan. Donald Trump juga telah berkali-kali menyebutkan di berbagai kesempatan bahwa Taiwan telah mengambil alih bisnis chip AS.
Pengenaan tarif oleh Donald Trump terhadap Taiwan di masa mendatang, mungkin tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, Taiwan harus bersiap-siap. Wu Da-ren melanjutkan, pemerintah perlu segera melakukan evaluasi dan mengambil tindakan pencegahan, misal negosiasi, dengan harapan Trump tidak mengambil tindakan yang terlalu keras terhadap Taiwan.