(Taiwan, ROC) --- Insiden keracunan yang menewaskan 2 orang setelah makan di restoran "Polam Kopitam" yang terletak di Distrik Xinyi, Kota Taipei, menghebohkan warga Taiwan.
Hingga berita ini diluncurkan, ada dua orang telah meninggal dunia, Dan kasus ini juga telah ditetapkan oleh Administrasi Makanan dan Obat-obatan di Taiwan (FDA) sebagai kasus "keracunan makanan serius".
Salah satu korban meninggal dunia, adalah seorang pria berusia 66 tahun bermarga Yang (楊姓). Yang sempat dikirim ke Rumah Sakit Shin-Kong untuk menerima perawatan darurat, tetapi sayang nyawanya tidak terselamatkan.
Yang diketahui pergi makan ke "Polam Kopitam" bersama dengan temannya pada tanggal 19 Maret 2024, dan hanya dia yang memesan menu kwetiau.
Setelah pulang ke rumah, Yang sempat mengeluh tidak enak badan dan mengalami diare, dan pada tanggal 21 Maret 2024, kondisi Yang bertambah parah dan bahkan ia mengeluh "tidak bisa berjalan". Akhirnya Yang dibawa ke Rumah Sakit Shin-Kong untuk menerima perawatan darurat.
Pada tanggal 23 Maret 2024, kondisinya menjadi semakin kritis, Yang pun diputuskan untuk masuk ke dalam kamar perawatan intensif. Meskipun telah dilakukan penyelamatan darurat dengan menggunakan ECMO, Yang akhirnya tidak bertahan.
Kepala Unit Perawatan Intensif Divisi Penyakit Dalam di RS Shin-Kong, Lin Chia-mo (林嘉謨), saat diwawancarai, mengatakan, ketika pasien Yang dibawa ke rumah sakit, detak jantungnya tidak dapat ditingkatkan, yang merupakan tanda keracunan asam yang parah dan salah satu karakteristik dari keracunan makanan.
Pasien Yang mengalami gagal ginjal akut dan gagal hati . Meskipun telah dilakukan upaya penyelamatan, tetapi nyawa pasien Yang tetap tidak tertolong.
Baca juga : Korban Meninggal Akibat Keracunan di Restoran Vegetarian Bertambah 1 Orang

Selain itu, seorang pria lainnya bermarga Lu (呂姓) berusia 40 tahun dari Distrik Sanchong, Kota New Taipei, makan di restoran "Polam Kopitam"di Distrik Xinyi pada tanggal 22 Maret 2024.
Setelah mengonsumsi kwetiau goreng vegetarian, Lu tiba-tiba merasa tidak enak badan. Lu akhirnya meninggal dua hari setelah sempat diberikan upaya penyelamatan.

Kepala Unit Perawatan Intensif Divisi Penyakit Dalam di Rumah Sakit Shin-Kong, Lin Chia-mo, menerangkan bahwa pada pagi hari kondisi pasien mengalami kekurangan kalium, sehingga cuci darah menjadi tidak efektif, denyut jantung tidak stabil, dan tekanan darah mulai menurun.
Dokter yang merawat pun langsung memberikan suntikan penguat jantung dan obat untuk mengurangi keasaman darah. Selain itu, pasien juga diberikan asupan protein.
Pada pukul 11.30, denyut jantung pasien tetap tidak naik (meningkat). Pasien mengalami "asidosis parah" yang merupakan tanda keracunan makanan. Pasien juga mengalami gagal ginjal akut dan gagal hati, yang pada akhirnya menghembuskan nafas terakhir.
Asidosis adalah suatu kondisi di mana cairan tubuh memiliki terlalu banyak asam. Kondisi ini terjadi ketika ginjal dan paru-paru tidak dapat menyeimbangkan pH tubuh.
Lin Chia-mo juga menyatakan, dia menyadari dari pemberitaan di media bahwa banyak rumah sakit lain yang juga memiliki pasien dengan kondisi serupa. Pada saat itu, dokter yang merawat juga telah menghubungi dokter lain di Rumah Sakit Mackay untuk mengetahui kasus yang sama.