(Taiwan,ROC) – Penularan COVID-19 dalam negeri Taiwan terus merebak, sikap perusahaan terhadap perekrutan tenaga kerja baru cenderung konservatif. Berdasarkan data statistik Direktorat Jenderal Budjet, Akuntansi dan Statistik (DGBAS) terhadap survei tingkat pengangguran Februari 2022 memperlihatkan, tingkat pengangguran tenaga muda berusia 20 -24 tahun meningkat pesat menjadi 12,47%, angka ini mengalami kenaikan sebesar 0,37% dibandingkan dengan Januari 2022, cakupannya sebesar 3,65% dari angka pengangguran Februari secara keseluruhan. Bank tenaga kerja menilai, sekarang ini rata-rata dari setiap 8 orang ada 1 orang warga berusia 20-24 tahun yang tidak memiliki pekerjaan, padahal musim kelulusan belum tiba, tingkat pengangguran kelompok usia muda ini sudah meningkat pesat.
Pakar tenaga kerja, Yang Zhong-bin (楊宗斌) mengamati, setelah tsunami moneter pada tahun 2008, tingkat pengangguran tenaga muda Taiwan cenderung tinggi, sekitar 3 kali lipat dari rata-rata pada umumnya, hal ini berkaitan dengan apa yang dipelajari tidak ada hubungan dengan yang digunakan dan perusahaan (daya saing), ditambah lagi dengan beberapa tahun terakhir ini terdapat arus transformasi, pada saat kesempatan kerja lebih banyak dan merasa pekerjaan yang dilakoni sekarang ini tidak memiliki masa depan, tetapi harus bersaing dengan tenaga muda yang baru lulus atau yang ingin beralih pekerjaan sehingga tingkat pengangguran kelompok ini terus bertambah.
Bersamaan dengan itu, masa perekrutan tenaga berbakat di Universitas saat memasuki Maret, para lulusan akan secara bertahap terjun ke masyarakat sosial. Apabila pandemi kembali merebak, tentu hal ini akan mempengaruhi sikap perusahaan dalam perekrutan tenaga kerja akan lebih konservatif, dengan demikian dikhawatirkan tingkat pengangguran tenaga kerja usia 20 – 24 tahun akan naik hingga 13%.
Berdasarkan analisis DGBAS tingkat pengangguran pada jenjang usia 20 – 24 tahun paling tinggi karena kebanyakan pencari kerja baru berada di usia ini, dan juga merupakan usia pada tahapan penyesuaian kerja, masa beradaptasi dengan tempat kerja, sehingga tingkat pengangguran cenderung tinggi. Untuk tingkat pengangguran urutan kedua tertinggi adalah mereka dengan jenjang usia 15 – 19 tahun sebesar 8,35% berlanjut dengan usia 25 – 29 tahun 6,1% yang merupakan angka tertinggi ketiga, sementara tingkat pengangguran jenjang usia 30 – 34 memperlihatkan penurunan menjadi 3,48% yang lebih rendah dari tingkat pengangguran rata-rata secara keseluruhan yaitu 3,65%
Selain tingginya tingkat pengangguran, masalah rendahnya gaji yang diterima kelompok tenaga kerja muda. Yang Zhong-bin (楊宗斌) mengungkapkan, berdasarkan data statistik menunjukkan, sekitar 65% dari tenaga kerja berusia di bawah 39 tahun memiliki beban hutang. Tanggungan yang paling besar porsinya yaitu 52% adalah hutang “pinjaman sekolah” pada kelompok tenaga kerja muda yang sempat menerima gaji hanya NT$22.000/bulan dan rata-rata total tabungan hanya NT$132 ribu saja, angka ini lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu yang sebesar NT$133 ribu, sedangkan 2 tahun lalu yang rata-rata NT$136 ribu, dan jauh lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata total tabungan pada tahun 2019 yaitu NT$170 ribu. Yang Zhong-bin mengemukakan situasi keuangan tenaga kerja muda terus terpuruk selama 4 tahun terakhir ini.