(Taiwan, ROC) - Presiden Rusia Vladimir Putin dalam sebuah kegiatan peringatan berkenaan dengan genap 8 tahun pengontrolan Krimea atau yang juga dikenal sebagai Aneksasi Krimea, yang digelar di salah satu gedung olahraga di Moskow, saat menyampaikan pidatonya, siaran pidatonya sempat terputus untuk sementara, yang kemudian terpaksa digantikan dengan untaian lagu-lagu patriotic. Kremlin mengklaim jika hal tersebut adalah hanya faktor kesalahan teknis.
Media Reuters memberitakan jika Presiden Vladimir Putin sangat mengagungkan “Operasi militer khusus" di Ukraina, saat tengah hendak mempromosikan nilai keberanian yang dimiliki oleh tentara Rusia, siaran langsung yang tengah ditayangkan oleh stasiun televisi Channel One, mendadak terhenti. Pihak Stasiun Channel One, yang merupakan media televisi yang dikelola oleh pemerintah Rusia, terpaksa mengisi kekosongan tayangan dengan lagu-lagu patriotik. Untungnya usai acara, pidato Presiden Vladimir Putin yang lengkap, masih dapat ditayangkan di televisi. Saat Presiden Vladimir Putin hendak turun dari panggung usai menyampaikan pidato, terlihat ribuan lambaian bendera Rusia yang dibawa oleh para penonton dalam stadiun. Stadiun Luzhniki sendiri memiliki kapasitas hingga 80.000 orang.
Kantor berita Rusia RIA mengutip juru bicara Kremlin Dmitry Peskov yang mengatakan bahwa gangguan tayangan pidato itu, disebabkan oleh kegagalan server untuk sistem jaringan komputer yang dipergunakan.
Media CNN melaporkan, dalam pidato yang disuarakan langsung dari podium, Presiden Vladimir Putin mengatakan bahwa Rusia "Benar-benar akan mewujudkan semua rencana kami (di Ukraina)". Adapun tulisan slogan pada bagian belakang berbunyi "Untuk dunia tanpa Nazisme." "Untuk mencegah manusia dari penderitaan, dari genosida ini, ini adalah alasan utama, motivasi dan tujuan operasi militer kami di wilayah Donbas dan Ukraina”.
Meskipun banyak penduduk Rusia yang melarikan diri keluar dari Rusia, atau menggelar aksi demo turun ke jalan guna memprotes perang dan Rusia semakin terisolasi, Presiden Vladimir Putin menegaskan ini adalah momen dimana semua pihak paling bersatu untuk Rusia dalam kurun waktu yang cukup panjang.
Pada hari Rabu tanggal 16 Maret lalu, salah satu pejabat tinggi dalam organisasi NATO atau Pakta Pertahanan Atlantik Utara menyampaikan jika semua pihak pejabat intelijen, baik dari Amerika dan negara barat lainnya, juga mengamati kesulitan yang dihadapi oleh Rusia saat hendak melakukan pergantian pasukan, dan hal ini menjadi sebuah pukulan telak terhadap sikap dan perasaan semua orang. Akan tetapi, pesimisme seperti demikian, tidak terlihat dalam pidato yang disampaikan oleh Presiden Vladimir Putin.