(Taiwan, ROC) – Invasi yang dilakukan oleh Rusia terhadap Ukraina masih terus berlanjut, pihak pemerintah Singapura pada hari Sabtu tanggal 5 Maret mengumumkan sanksi terhadap 4 instansi perbankan perdagangan luar negeri milik Rusia, selain itu juga melakukan pembatasan ekspor produk ke Rusia, yang mana berhubungan erat dengan proses manufaktur produk alutsista yang dipergunakan untuk menyerang Ukraina serta produk elektronik yang berkaitan dengan dunia internet.
Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan sebelumnya menyampaikan bahwa pihak Rusia telah melakukan penyerangan skala berat terhadap Ukraina yang belum pernah terjadi di masa lampau, ditambah lagi dengan penolakan salah satu isu yang tengah dibahas oleh Dewan Keamanan PBB terkait rancangan keputusan pengecaman terhadap Rusia yang melakukan invasi ke Ukraina. Untuk itu, Singapura akan berdiri bersama dengan negara-negara yang memiliki kesepahaman yang sama dalam menjalankan aksi pengecaman, dengan meluncurkan sanksi dan pembatasan terhadap Rusia.
Kementrian Luar Negeri Singapura pada hari Sabtu tanggal 5 Maret dalam pers rilisnya mengemukakan adapun instansi perbankan yang masuk ke dalam daftar sanksi antara lain VTB Bank, Vnesheconombank, PSB Bank dan Bank Rossiya.
Adapun sanksi yang dijatuhkan tersebut akan menghentikan semua transaksi, pembekuan aset baik property maupun uang tunai, pelayanan pinjam meminjam dan juga pelayanan perbankan.
Sanksi yang ada juga akan sekaligus menghentikan semua bentuk aktivitas perbankan antara bank milik Singapura dengan pemeritah Rusia, Bank Sentral Rusia dan aktivitas dengan semua instansi pemerintah Rusia. Pemerintah Singapura dan instansi perbankan Singapura juga akan menghentikan aktivitas jual beli saham yang diedarkan oleh Rusia. Selain itu, semua instansi perbankan Singapura juga dilarang untuk melakukan transaksi dan pelayanan di Donetsk dan Luhansk yang dianggap mendukung gerakan invasi Rusia terhadap Ukraina. Hal ini dilanjutkan dengan penghentian semua aktivitas transportasi, jual beli bahan baku energi, gas alam, minyak, telekomunikasi, bahan tambang dan lain sebagainya, termasuk juga transaksi crypto dengan Rusia.