History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Sekitar 600 Ribu Pemuda Taiwan Mengisap Rokok Elektrik

  • 29 January, 2022
  • 譚雲福
Sekitar 600 Ribu Pemuda Taiwan Mengisap Rokok Elektrik
Sekitar 600 Ribu Pemuda Taiwan Mengisap Rokok Elektrik

(Taiwan, ROC) – Hasil Survei Biro Kesehatan Nasional memperlihatkan, 5,5% atau sekitar 600 ribu anak muda menggunakan rokok elektrik. Dokter mengemukakan, rokok eletrik tidak saja membahayakan kesehatan tubuh juga dapat meningkatkan risiko tertular COVID-19 lebih tinggi 5 kali lipat dari orang pada umumnya, untuk itu mengimbau jangan mengisapnya lagi.

Kemajuan zaman sehingga produk rokok beberapa waktu lalu juga mengeluarkan produk rokok elektrik yang tidak saja mudah dibawa kemana-mana juga memiliki bentuk yang modern dan bagus serta aroma esense dari asap yang dikeluarkan semerbak sehingga menarik kaum muda untuk menggunakannya, tetapi peraturan pencegahan bahaya merokok yang sudah 15 tahun belum direvisi sehingga sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan sekarang ini, Yuan Eksekutif pada pertengahan Januari kemarin telah meloloskan amandemen UU pencegahan bahaya merokok, dengan meninggikan larangan merokok rokok elektrik bagi kaum muda menjadi 20 tahun, amandemen UU ini akan diusung ke Yuan Legislatif untuk prosedur pemeriksaan selanjutnya.

Biro Kesehatan Nasional - Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan memberikan kuasa kepada Shih Hsin University untuk melakukan survei pengunaan rokok elektrik dari kelompok muda berusia 15 – 49 tahun pada tahun lalu, sebanyak 1068 respondens yang hasil surveinya diumumkan pada tanggal 21 Januari 2022.

Profesor dari Shih Hsin University. Zhong Qi-hui yang turut andil dalam survei ini mengemukakan, Dari survei menemukan, tingkat penggunaan rokok elektrik sebesar 5,5% yang jika dilihat dari jumlahnya mencapai sekitar 500 ribu hingga 600 ribu kaum muda, di antaranya sekitar 44% pengguna yang tidak jelas kandungan nikotin dari rokok elektrik yang digunakan. Apabila ditambahkan dengan mereka yang pernah menggunakan rokok elektronik maka tingkatnya mencapai 20% atau sekitar 2 juta orang.

Survei menunjukkan, berkisar 21,8% dari seluruh pengguna rokok tradisional yang juga menggunakan rokok elektronik dan rokok kertas, dan 63,7% pernah menggunakan rokok elektronik. Selain itu juga mendapati 2,8% dari responden survei yang menggunakan rokok elektronik di mana sebelumnya tidak pernah menggunakan rokok kertas sama sekali.

Dari survei juga menemukan, tingkatan jumlah kaum muda yang pernah mendengar produk rokok elektronik dari 76,8% pada tahun 2017 menjadi 94,8% pada tahun 2021, sementara dengan cara apa mereka mengetahui informasi terkait rokok elektrik kebanyakan dari teman keluarga, teman kantor atau media sosial Facebook yaitu sebanyak 49,6% sedangkan 30% kaum muda lainnya pernah membeli atau menggunakan rokok elektrik.

Survei memperlihatkan, ada 66,4% orang yang menyetujui pemerintah mengeluarkan larangan penggunaan rokok elektrik, 67,5% tidak setuju kalau rokok elektrik dapat membantu menghentikan kebiasaan merokok, sementara 72,8% menyetujui terkait penggunaan rokok elektrik berisiko terhadap kesehatan tubuh tetapi masih ada 27,2% yang tidak setuju dengan pendapat bahwa rokok elektrik merusak kesehatan.

Pada kenyataannya, rokok elektrik tidak saja merusak kesehatan tubuh, bahkan juga bisa merugikan keluarga atau orang yang berada di dekatnya yang menjadi perokok kedua dalam arti mengisap asap rokok, mengganggu kesehatan anak-anak. Kepala Pusat Medis Kardiovaskular – Far Eastern Memorial Hospital, Wu Yan-wen menekankan, banyak yang mengiklankan tidak mengandung nikotin tetapi dalam hasil pemeriksaan terdapat kandungan nikotin, penggunaan pewangi ditambah dengan pasa sehingga asap yang dikeluarkan tidak berbau, tetapi asap ini dapat mengganggu perkembangan otak anak. 

Wu Yan-wen mengemukakan, pengguna rokok elektrik baik asap maupun mereka tidak mengisap langsung asapnya tetapi semua berkemungkinan berisiko pada saluran peredaran darah, jantung dan tekanan darai, dan juga dapat meningkatkan risiko penyakit pada bagian paru-paru. Lebih dari 68 kasus penyakit paru-paru akibat menggunakan rokok elektrik di Amerika Serikat.

Wu Yan-wen mengungkapkan, berdasarkan penelitian luar negeri menunjukkan, risiko terkena COVID-19 bagi kaum muda berusia antara 13 hingga 24 tahun yang mengisap rokok kertas akan lebih tinggi 5 kali lipat dari mereka yang tidak merokok, dan 7 kali lipat risiko terpapar bagi pengisap rokok elektrik, untuk itu masyarakat diimbau untuk tidak menjerumuskan kesehatan tubuh dalam risiko ini.

Komentar

Terbarumore