(Taiwan, ROC) -- Wakil Menteri Ekonomi, Tseng Wen-sheng hari ini (12/1) atas undangan dari media, hadir dalam ceramah dalam forum dan pada kesempatan ini juga membicarakan strategi kebijakan sumber energy Taiwan. Tseng Wen-sheng mengemukakan, seiring dengan merebaknya pandemi COVID-19, Uni Eropa mengungkit “Mekanisme Penyesuaian Perbatasan Karbon” (Carbon Border Adjustment Mechanism /CBAM), merupakan kebijakan yang sangat memiliki terobosan, dikedepannya dunia akan lebih agresif untuk mencapai nol karbon. Namun kebijakan ini tidak memiliki pengaruh besar terhadap Taiwan dalam jangka pendek, pengaruh yang paling besar adalah terhadap industri besi, tetapi tingkat produktivitas industri besi Taiwan masih rendah untuk bersaing dengan internasional sehingga tidak memberikan dorongan yang besar, ditambah lagi perdagangan ekspor juga tidak tinggi.
Tseng Wen-sheng mengemukan, dibandingan dengan pajak terkait karbon, pengaruh Taiwan yang lebih besar adalah Apple, Google dan merek-merek internasional yang masuk dalam Re100 yang 100% menggunakan energi hijau, mendorong satu persatu produsen dalam negeri seperti TSMC, Acer, Delta, dan UMC untuk meresponsnya, sehingga meningkatkan permintaan energi hijau di Taiwan. Namun, memang benar energi hijau khususnya tenaga angin lepas pantai telah dibeli oleh TSMC, pemerintah sendiri terus mengembangkan energi hijau, sebelum tahun 2025, beberapa proyek fotovoltaik telah dimasukkan ke dalam transaksi penawaran, dan beberapa produsen telah langsung diinvestasikan dan dibangun sendiri. Pada tahun 2025, akan ada dua ladang angin lepas pantai yang akan dikomersialkan. Mulai tahun 2026, tenaga angin lepas pantai diharapkan untuk menghasilkan 1,5GW per tahun.
Terkait apakah dapat memenuhi permintaan pasar, Tseng Wen-sheng menegaskan, akan terus mengembangkan dan mempercepat penyediaan asupan listrik ramah lingkungan.