(Taiwan, ROC) – Perusahaan Farmasi Amerika Serikat (AS) Pfizer memperkirakan pandemi COVID-19 berkemungkinan tidak bisa disingkirkan hingga tahun 2024, dan menyampaikan akan menyediakan versi vaksin dosis rendah untuk anak-anak yang berusia 2-4 tahun. Namun karena vaksin-vaksin tersebut menghasilkan respon kekebalan lebih lemah dari yang diprediksi, kondisi ini berpotensi dapat menunda waktu otorisasi suntikan untuk anak-anak usia tersebut.
Kepala Ilmuwan Pfizer, Mikael Dolsten, saat melakukan presentasi kepada para investor mengemukakan, Pfizer memprediksi beberapa kawasan akan terus mengalami lonjakan kasus COVID-19 dalam satu atau dua tahun ke depan. Pada saat bersamaan, negara-negara yang lain akan memasuki fase “Endemik” tingkat rendah dengan kasus penyakit yang dapat dikendalikan.
Pfizer meramalkan bahwa sebelum tahun 2024, penyakit ini seharusnya akan berubah menjadi endemik di seluruh dunia.
“Kapan dan bagaimana tepatnya kondisi ini dapat terjadi, semuanya bergantung pada perkembangan dari penyakit itu sendiri, serta bagaimana masyarakat dapat menyebarkan vaksin dan perawatan secara efektif, serta distribusi yang adil ke tempat-tempat yang mana tingkat vaksinasinya rendah.” tutur Mikael Dolsten. “Munculnya varian baru juga akan berdampak pada bagaimana wabah tersebut berkembang.” tambah Mikael Dolsten.
Pfizer dan perusahaan farmasi Jerman, BioNTech telah bersama-sama mengembangkan vaksin COVID-19, dan saat ini diperkirakan telah memberikan kontribusi pendapatan sebesar US$ 31 miliar. Pfizer juga berencana untuk memproduksi sebanyak 4 miliar dosis vaksin pada tahun depan.
Pfizer juga memiliki satu jenis obat oral antivirus eksperimental, yang diberi nama Paxlovid. Saat ini tengah dalam tahap uji klinis, dan obat ini dapat mengurangi persentase rawat inap serta kematian pada kelompok beresiko tinggi hingga hampir 90%.
Saat Pfizer menyatakan perkiraaan ini pada bulan lalu, varian baru Omicron yang memiliki 50 mutasi jika dibandingkan dengan versi awal virus corona pun muncul. Varian Omicron yang dilaporkan dapat mengurangi efektivitas perlindungan dari dua dosis vaksin terhadap infeksi, sontak menimbulkan kekhawatiran terhadap seluruh dunia.
Saat sebelum varian Omicron muncul, Anthony Fauci selaku Kepala Pakar Pencegahan Epidemi AS pada awalnya meramalkan jika epidemi di AS akan berakhir pada tahun 2022.