(Taiwan, ROC) --- Pada tanggal 9 Desember 2021, otoritas Nikaragua mengumumkan pemutusan hubungan diplomatik dengan Taiwan. Menanggapi hal tersebut, Menteri Luar Negeri (MOFA) – Joseph Wu (吳釗燮) hari ini menyampaikan, selama pemilu berlangsung di Nikaragua, orang-orang yang menentang kepemimpinan presiden setempat diberitakan telah dipenjara. Hal tersebut serta-merta mendatangkan protes dari masyarakat, mereka menyebutkan bahwa peristiwa pemenjaraan akan melukai tubuh demokrasi. Apalagi hal tersebut diperparah dengan sikap presiden terpilih Nikaragua untuk lebih memilih “mencari” pihak RRT dan Rusia.
Joseph Wu melanjutkan, MOFA telah berupaya semaksimal mungkin untuk melakukan yang terbaik dalam mempertahankan hubungan diplomatik dengan Nikaragua.
Saat ditemui dalam perhelatan “Taiwan – US – Japan Trilateral Indo-Pacific Security Dialogue” pada Selasa pagi (14/12), Joseph Wu menyampaikan, dinamika global saat ini berkembang cukup pesat, meliputi kubu demokrasi yang dipimpin oleh AS dengan kubu otoritarianisme yang didominasi oleh RRT dan Rusia. Keduanya terlibat dalam persaingan yang sangat ketat.
Beberapa kejadian memilukan diberitakan mewarnai proses pemilu di Nikaragua. Joseph Wu menuturkan, semua orang yang menentang kepemimpinan presiden akan dipenjarakan, yang mana hal tersebut mendatangkan pertentangan dari kubu pembela demokrasi yang notabene dipimpin oleh AS.
Atas pertimbangan tersebut, otoritas Nikaragua pun mulai menjalin hubungan dengan pihak RRT dan Rusia. Joseph Wu menambahkan, saat KTT Demokrasi dilangsungkan, otoritas Negeri Tirai Bambu tidak diundang. Oleh karena itu, RRT dinilai mulai melancarkan tekanan terhadap negara-negara yang menjalin hubungan diplomatik dengan Taiwan.
Di tengah dinamika hubungan internasional yang rumit, Nikaragua akhirnya memilih untuk memutuskan hubungan diplomatik mereka dengan Taiwan.
Ia melanjutkan, kehilangan negara yang pernah menjalin hubungan diplomatik dengan Taiwan adalah hal yang sangat menyedihkan. Seluruh jajaran MOFA juga telah berupaya semaksimal mungkin untuk menjaga jalinan pertukaran resmi mereka dengan negara-negara sahabat. Namun demikian, situasi dunia internasional yang dinamis “tidak akan diam saja dan menunggu Taiwan”.
Joseph Wu menyampaikan, pihaknya akan melakukan prosedur relevan berikutnya, meliputi menarik mundur staf personil kedutaan, menangani aset dan kesepakatan yang pernah dijalin kedua pihak. Ia pun berharap agar seluruh pekerjaan rumah dapat diselesaikan sebaik mungkin dan akan dilaporkan ke hadapan publik secepatnya.
Joseph Wu menegaskan, seluruh staf MOFA telah melakukan yang terbaik untuk mempertahankan hubungan diplomatik dengan Nikaragua. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh personel yang bertugas dan dedikasi yang mereka sumbangsihkan.
Menanggapi tekanan yang kerap kali dilancarkan oleh RRT terhadap tubuh demokrasi Taiwan, Joseph Wu menuturkan, rekan sebangsa dan MOFA memiliki pemikiran serupa, yakni mengutuk keras.
Joseph Wu mengatakan, kondisi strategis dari konfrontasi sengit yang terjadi antar kubu demokrasi dengan otoritarianisme terus meningkat. Kehadiran Audrey Tang (唐鳳) dan Hsiao Bi-khim (蕭美琴) dalam KTT Demokrasi tahun ini adalah peristiwa yang patut dibanggakan oleh 23 juta warga Taiwan.