(Taiwan, ROC) – Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO pada hari Selasa tanggal 26 Oktober lalu, bersama Kementerian Kesehatan dari Kolombia, Mali dan Filipina mengumumkan program Solidarity Trial Vaccines, untuk vaksin Medigen produksi Taiwan juga termasuk dalam daftar vaksin yang dinominasi. Selasa malam tanggal 26 Oktober, perusahaan Medigen juga mengumumkan, akan mengembangkan uji klinis fase ketiga, serta rincian ujicoba vaksin akan disesuaikan dengan ketentuan dari WHO.
Di hari yang sama, WHO mengeluarkan pernyataan, program Solidarity Trial Vaccines adalah suatu platform lintas negara, menjalankan uji klinis secara random, bertujuan untuk memberikan penilaian secara cepat terhadap tingkat perlindungan dan keamanan dari vaksin yang dinominasikan. Beberapa vaksin yang dinominasikan adalah satu vaksin mandiri yang mendapat prioritas pilihan dari tim peneliti, dari tim peneliti ini beranggotakan ilmuwan dan pakar unggulan. Berdasarkan pernyataan dari WHO menyampaikan, tim peneliti dari Kolombia, Mali dan Filipina telah memulai merekrut para relawan yang bersedia untuk berpartisipasi dalam ujicoba klinis ini.
Menurut pernyataan dari WHO, hingga saat ini, urutan pilihan vaksin yang diprioritaskan oleh tim peneliti telah meninjau sekitar 20 vaksin yang dinominasi; melalui saran dari tim kerja, saat ini tersedia 2 jenis vaksin yang tercakup dalam program Solidarity Trial Vaccines, yakni vaksin subunit protein, Medigen dan vaksin Inovio Pharmaceuticals dari AS.
Perusahaan Medigen mengemukakan, selain vaksin COVID-19 Medigen dan vaksin DNA-Inovio, diprakirakan masih ada 2 vaksin yang masih menjalani peninjauan secara lengkap untuk bergabung dalam penelitian uji klinis tim dunia.
Tim peneliti uji klinis vaksin akan mengakselerasi pengembangan banyak vaksin COVID-19 yang berpotensial di dunia, sehingga mampu menciptakan perluasan gugusan vaksin, dengan sasaran bertujuan agar mampu mengembangkan vaksin generasi kedua dengan tingkat kemanjuran yang lebih tinggi untuk memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap virus yang terus bermutasi, agar manusia di dunia dapat terhindari dari serangan virus COVID-19.