(Taiwan, ROC) – National Radio Museum (Museum Radio Nasional) beberapa waktu yang lalu menyelenggarakan kegiatan hari budaya Taiwan bertajuk “Budaya Indonesia di Taiwan”, yang terbagi menjadi tiga bagian, yakni: film dokumenter, pertunjukan musik, dan seminar kebudayaan Taiwan-Indonesia, guna menghubungkan dan menjalin budaya Taiwan-Indonesia di Minxiong, Chiayi.
Merupakan kali pertama untuk Museum Radio Nasional bekerja sama dengan tim perekaman video, serta mengundang Tsai Tsung-lung (蔡崇隆), yakni seorang sutradara yang sangat memahami budaya Asia Tenggara untuk menjadi produser dan menantu perempuan Taiwan asal Makau, Yuki sebagai sutradara. Film dokumenter tersebut menyajikan klip-klip video pekerja pabrik Indonesia di wilayah Chiayi, yang tengah berlatih seni bela diri asal Indonesia, yakni “Silat”. Video tersebut juga menampilkan klip video mahasiswa Indonesia yang bepergian ke pasar lama di Chiayi untuk mencicipi sarapan tradisional “Omelet goreng”, serta adegan bahagia saat berkenalan dengan teman-teman Indonesia yang mengenakan kostum tradisional di Taman Budaya Chiayi. Produser Tsai Tsung-lung mengemukakan, banyak sekali teman-teman dari Asia Tenggara yang bekerja di Taiwan tidak memiliki kesempatan untuk dapat libur selama satu hari dalam seminggu. Mereka diperlakukan secara tidak sama. Semoga dari realitas yang didokumentasikan dalam film ini, dapat membangkitkan empati dari para majikan Taiwan!
Nanhda, yang bernyanyi dan menari di atas panggung acara dengan mengenakan pakaian tradisional modifikasi Indonesia, pada hari biasa berprofesi sebagai seorang pengasuh, dan dirinya menggunakan hari liburnya untuk manggung bersama dengan band-band Indonesia di berbagai tempat. Dalam kesempatan ini, dirinya dengan musisi asal Taiwan bersama-sama bernyanyi dan menggunakan bahasa musik menampilkan antusiasme Negara Kepulauan terbesar di dunia (Indonesia) kepada masyarakat Taiwan, serta menggabungkan lagu populer Taiwan-Indonesia dengan melodi yang serupa, membawakan perasaan yang menyegarkan telinga para penonton.
Di penghujung acara dengan tema “RTI kembalikan cintaku pada Taiwan dan Indonesia”, yang dibawakan oleh Tony Thamsir, selaku penyiar Radio Taiwan Internasional (RTI) Siaran Indonesia, berbagi akan kisahnya yang berteguh hati untuk kembali tinggal di Taiwan meski sempat disarankan oleh ibunya untuk ke negara lain, serta pengalaman atas prestasi kerjanya yang menenangkan pengalaman negatifnya saat pernah didiskriminasi. Hingga saat ini, dirinya yang telah memiliki reputasi kecil baik di Taiwan maupun di Indonesia, berharap dapat menjadi jembatan dan mempromosikan lebih banyak kerja sama antara Taiwan dan Indonesia.
Kepala Kelompok Sumber Daya Budaya RTI, Guo Rong-zhe (郭榮哲) mengatakan, “Museum Radio Nasional hingga saat ini masih terus menjadi stasiun peluncuran, yang meluncurkan program dan sinyal radio multibahasa ke Indonesia, Thailand, dan Vietnam. Tidak hanya sebagai penghubung antara Taiwan dan Indonesia di udara, melalui acara ini juga dapat menghadirkan budaya Indonesia di Taiwan, dan memiliki pertukaran yang lebih substansial!”
Selain menyuguhkan pertukaran visual dan audio, acara kali ini juga telah memuaskan indera pengecap para peserta. Pihak museum secara khusus menyiapkan berbagai kuliner khas Taiwan dan Indonesia seperti, Telur Besi dan Onde-onde, serta mengundang seluruh peserta untuk mencicipinya dan mengisi minggu sore para hadirin dengan beragam sajian acara!