(Taiwan, ROC) Taiwan saat ini memperbolehkan tenaga medis dan petugas di garda terdepan untuk memperoleh vaksin COVID-19 yang berbeda, meminta agar warga memperhatikan untuk jadwal vaksinasi yang tersedia. Komando Pusat Komando Epidemi Sentral (CECC), Chen Shih-chung mengatakan, ke depannya akan melihat jumlah vaksin yang tersedia, diprakirakan kemungkinan pemberian vaksin campuran ini akan diterapkan bulan November.
Komandan CECC Chen Shih-chung (陳時中) pada hari Kamis ini (21/10) saat sidang interpelasi Yuan Legislatif Komite Kesehatan dan Lingkungan memberikan laporan terkait vaksinasi, ia menyampaikan berkaitan dengan rencana pemberian vaksin yang berbeda, pihaknya telah membuka untuk golongan pertama, yakni bagi mereka yang bekerja di bidang medis kedokteran dan bagi yang bukan tenaga medis, bekerja di rumah sakit dan telah menerima suntikan pertama vaksin AZ dengan interval waktu lebih dari 10 minggu, diperbolehkan untuk menerima vaksin berikutnya Moderna. Kedepannya akan melihat situasi perkembangan epidemi, jumlah vaksin dan penjadwalan vaksinasi, serta kondisi penerima vaksin yang berisiko, untuk menyusun platform reservasi vaksin periode ke-13 yang terbuka bagi warga untuk mendapat vaksin suntikan pertama AZ dan suntikan vaksin kedua adalah BNT.
Chen Shih-chung mengatakan, “Berikutnya akan membuka platform reservasi vaksinasi periode ke-13, menyediakan bagi yang telah mendapat suntikan vaksin pertama AZ dengan interval waktu lebih dari 10 minggu, maka bisa mendapat vaksin BNT sebagai vaksin suntikan kedua.”
Profesor fakultas Kesehatan Umum NTU, Chen Hsiu-chi(陳秀熙) kemarin menyampaikan, seluruh negara kira-kira 70% negara menerapkan pelonggaran pembatasan, Taiwan juga perlu berpikir bagaimana cara agar informasi vaksinasi dalam negeri dan internasional dapat terkomunikasikan, misalkan melalui paspor imunisasi agar warga yang telah mendapat 2 kali suntikan vaksin, pemeriksaan di bagian keimigrasian dapat dipercepat. Chen Shih-chung pada hari ini memberikan responsnya bahwa, pelonggaran di perbatasan, wajib menunggu hingga cakupan vaksinasi COVID-19 mencapai persentasi tertentu baru dipertimbangkan lagi.