Menteri Kesehatan Chen Shih-chung (depan, kiri) dan Direktur TSOS Lee Ming-been (depan, kanan) menghadiri acara konferensi pers pada hari Minggu, 5 September, untuk meningkatkan kesadaran dan prihatin menjelang Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia 10 September. (Foto: CNA, 5 September, 2021)
(Taiwan, ROC) - Hampir separuh warga Taiwan mengalami stres akibat pandemi Covid-19, demikian berdasarkan sebuah survei yang dirilis pada hari Minggu, 5 September oleh dua lembaga prihatin bunuh diri, yakni Pusat Pencegahan Bunuh Diri Nasional (National Suicide Prevention Center) dan Asosiasi Penelitian Bunuh Diri Taiwan (Taiwanese Society of Suicidology/TSOS), dalam rangka memperingati Hari Pencegahan Bunuh Diri Dunia 10 September.
Survei yang mengoleksi respons dari 2.219 warga berusia 15 tahun ke atas itu menemukan, 45,4% responden mengungkapkan bahwa lonjakan kasus pandemi Covid-19 dalam satu bulan terakhir telah menimbulkan tekanan psikologis, 30,8% responden merasakan tekanan finansial, dan 29,8% responden mengatakan mereka merasa stres setiap hari akibat pandemi.
Direktur TSOS Lee Ming-been (李明濱) meminta warga yang merasa stres selama pandemi untuk tidak mengabaikan pengaruh emosional dari pandemi Covid-19 dan menganjurkan dicarinya perawatan medis jika diperlukan.
Perihal isu bunuh diri, Lee mengutip data pemerintah yang menunjukkan bahwa angka kematian akibat bunuh diri di Taiwan telah menurun setiap tahun sejak 2006, dan bunuh diri telah keluar dari daftar 10 penyebab utama kematian di Taiwan sejak 2010.
Namun, lanjutnya, ada satu kecenderungan yang patut diprihatinkan, yakni jumlah orang muda berusia 14 tahun ke bawah dan orang lanjut usia 75 tahun ke atas yang bunuh diri masing-masing naik 11 kasus dan 29 kasus pada 2020 dibandingkan dengan 2019.
Lee mengaitkan peningkatan signifikan bunuh diri di kalangan anak muda pada usia remaja dengan masalah hubungan, isu mental dan intimidasi di sekolah, dan menyerukan perhatian lebih besar dari lembaga pemerintah dan sekolah.