(Taiwan, ROC) Kementerian Sains kemarin (25/8) menggelar konferensi pers melaporkan hasil pencegahan epidemi, tim Nasional Taiwan University Hospital menyampaikan, sementara dengan riset pengembangan vaksin COVID-19 dengan semprotan hidung, selain dapat memproduksi immunoglobulin G (IgG), juga dalam saluran pernapasan dapat memproduksi immunoglobulin A (IgA), hasil percobaan yang dilakukan pada binatang terbukti lebih efektif dibandingkan dengan cara tradisional dengan suntikan. Untuk tahap saat ini sedang mencari sumber sponsor dana, jika berjalan dengan lancar diprediksikan pertengahan tahun depan akan melakukan ujicoba pada manusia.
Kementerian Sains tahun lalu membentuk “Pusat Riset Pengembangan Sains Pencegahan Epidemi”, kemarin (25/8) menggelar konferensi pers untuk melaporkan hasil pencegahan epidemi dengan mengundang National Taiwan University(NTU), National Yang Ming Chiao Tung University (NYCU), National Cheng Kung University (NCKU), Chang Gung University (CGU) dan Kepala Rumah Sakit Chang Gung serta Pusat Medis Pertahanan Nasional untuk berbagi pengalaman hasil pengembangan pencegahan epidemi.
Huang li-min dokter spesialis anak di rumah sakit NTU mengatakan, sementara ini tim riset sedang mengembangkan vaksin dengan metode semprotan hidung, setelah mendapat vaksin ini maka akan memproduksi antibodi dalam tubuh, untuk vaksin metode suntikan memproduksi immunoglobulin G yang berkonsentrasi pada saluran pernapasan bawah; tetapi metode semprotan vaksin memproduksi immunoglobulin G juga mencakup antibodi (IgA) untuk saluran pernapasan bagian atas, sehingga mampu menghindari virus penyakit ditularkan kepada orang lain.
Dokter Huang mengatakan, dalam ujicoba pada binatang didapati, vaksin semprotan hidung dibandingkan dengan suntikan lebih efektif. Akan tetapi, jika akan melakukan uji klinis pada tubuh manusia, masih memerlukan dana dan waktu. “Jika tidak ada masalah dengan pendanaan, diprediksikan uji coba ini akan dilakukan pada pertengahan tahun depan. Dokter Huang lebih lanjut mengatakan, sementara untuk varian virus yang diuji adalah varian Wuhan, jika diperlukan maka juga bisa diganti dengan virus varian lainnya, sementara masih mencari perusahaan bioteknologi untuk melakukan kerjasama.