(Taiwan, ROC) --- Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan media Jepang, Presiden Tsai Ing-wen (蔡英文) menyampaikan perlunya mempertahankan hubungan kerja sama ekonomi dengan pihak Republik Rakyat Tiongkok (RRT) hingga taraf tertentu, terutama bagi negara-negara yang terletak di kawasan Asia Pasifik. Namun, Beliau mencemaskan perihal masalah keamanan yang telah menjadi isu utama di Taiwan. Dibandingkan dengan negara sekitar, Taiwan adalah pihak yang selalu menerima ancaman dari Negeri Tirai Bambu.
Kepala Negara menyampaikan, Taiwan akan meningkatkan kemampuan tempur dan kemandirian pertahanan nasional, di tengah tidak seimbangnya kekuatan militer antar kedua pihak. Taiwan juga berharap kawasan Asia Timur dapat membangun mekanisme dialog keamanan sedini mungkin. Beliau juga menekankan, Taiwan bersedia memikul tanggung jawab untuk menjaga perdamaian di kawasan regional.
Presiden Tsai Ing-wen baru-baru ini menerima wawancara eksklusif dari media Jepang Bungeishunjū melalui virtual. Isi wawancara tersebut juga telah dirilis oleh Istana Kepresidenan hari ini (10/8).
Dalam pertemuan KTT Kepemimpinan Jepang – Amerika Serikat pada bulan April tahun ini memuat resolusi bahwa kedua negara menekankan pentingnya perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan. Ini adalah pertama kalinya dalam 50 tahun bagi kedua negara mengangkat isu Taiwan dalam pertemuan tingkat tinggi. Menanggapi hal tersebut, Presiden Tsai Ing-wen menyampaikan rasa terima kasihnya. Kepala Negara menambahkan, isu pentingnya perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan juga kembali disebutkan dalam pertemuan G7 Summit di Inggris pada bulan Juni lalu. Hal tersebut memperlihatkan semakin pentingnya kondisi perdamaian Selat Taiwan di mata negara-negara maju dunia.
Kepala Negara melanjutkan, dalam beberapa tahun belakangan RRT kian memperlihatkan ambisi besarnya di kawasan Asia Pasifik. Hal tersebut jelas mendatangkan ketidak-pastian besar bagi situasi perdamaian, stabilitas dan keamanan di kawasan regional secara keseluruhan.
Di bawah ketidak-pastian tersebut, Jepang bersama Amerika Serikat dan negara-negara lainnya mulai menyinggung isu Selat Taiwan, serta mengungkapkan keprihatinan mereka terhadap tindakan RRT yang terus memperluas cakupan militernya.
Beliau percaya, RRT sudah seharusnya mempertimbangkan perspektif dunia internasional, sebelum membuat keputusan apa pun. Apalagi kini setiap negara maju di dunia mulai memprioritaskan isu perdamaian di Selat Taiwan. Negeri Tirai Bambu harus lebih cermat dan hati-hati dalam membuat kebijakan, termasuk tekanan militer mereka terhadap Taiwan.
Menanggapi kemampuan militer yang tidak seimbang antar Taiwan dengan RRT, Presiden Tsai Ing-wen menjawab, anggaran untuk sektor pertahanan Taiwan memang sangat terbatas. Pemerintah juga telah memutuskan untuk focus terhadap peningkatan sumber daya, guna meningkatkan kemampuan tak seimbang dan memperkuat otonomi pertahanan nasional.
Pada saat yang sama, akan mengutamakan kerja sama dan dialog bersama dengan negara sekitar. Beliau berharap negara-negara yang terletak di kawasan Asia Timur dapat membangun mekanisme dialog di sektor keamanan sedari dini. Taiwan bersedia memikul tanggung jawabnya untuk menjaga perdamaian regional.
Presiden Tsai Ing-wen menegaskan, Taiwan akan bersikap konsisten untuk tidak menyerah di bawah tekanan dan tidak akan terburu-buru ketika memperoleh dukungan. Saat merumuskan strategi pertahanan nasional, Taiwan akan mengutamakan pertimbangan perdamaian dan kemakmuran regional. Pada saat yang sama, Taiwan juga akan berupaya semaksimal mungkin untuk meningkatkan otonomi pertahanan nasional.
Kepala Negara melanjutkan, seluruh pemimpin dunia saat ini tengah menghadapi ujian untuk tetap mempertahankan hubungan perekonomian dengan RRT, di tengah ketidak-stabilan di sektor keamanan. Ini adalah dilema yang dirasakan semua pihak, termasuk Taiwan yang adalah pihak yang harus menerima ujian terbesar.
Beliau menambahkan, Taiwan juga telah mengambil sikap untuk tidak selalu bergantung terhadap basis produksi dan pasar RRT. Taiwan senantiasa mempertimbangkan segala risiko yang ada, serta memperlebar diversifikasi dan pengembangan jalur investasi dalam negeri.