History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Infeksi COVID-19 di Klaster Kecil Dikhawatirkan Menjadi Bom Waktu Penularan Berikutnya

  • 02 June, 2021
  • 曾秀情
Infeksi COVID-19 di Klaster Kecil Dikhawatirkan Menjadi Bom Waktu Penularan Berikutnya
Infeksi COVID-19 di Klaster Kecil Dikhawatirkan Menjadi Bom Waktu Penularan Berikutnya

(Taiwan, ROC) --- Dalam konferensi yang digelar kemarin siang (6/1), Ketua Pusat Komando Epidemi Sentral (CECC) Chen Shih-chung (陳時中) menyampaikan, situasi penularan domestik dalam negeri perlahan-lahan menurun. Meski demikian, kebijakan pengendalian pandemi masih harus dijalankan dan masyarakat tetap tidak boleh lengah.

Pada tanggal 2 Juni 2021, salah seorang Dosen Universitas Nasional Taiwan (NTU) Chen Hsiu-hsi (陳秀熙) menyampaikan, kasus penularan domestik di Distrik Wanhua Kota Taipei merupakan yang terparah, kemudian diikuti oleh Kota New Taipei.

Setelah pemerintah merilis status waspada level tiga pada tanggal 15 Mei kemarin, jumlah kasus penularan lokal pun bertahap menurun. Sama halnya dengan kasus penularan lokal di kabupaten/kota lain di Taiwan, yang tidak memperlihatkan tanda-tanda meningkat.

Nilai RT (RT Value) pun kian menurun, mencerminkan kebijakan pengendalian pandemi yang diberlakukan pemerintah berhasil menghambat rantai penularan COVID-19.

Chen Hsiu-hsi mengatakan, “Jumlah kasus di kabupaten/kota lainnya di Taiwan tidak meningkat dari waktu ke waktu. Dapat terlihat, jika rantai penularan COVID-19 telah terhambat oleh kebijakan pengendalian status waspada level ketiga yang diberlakukan. Namun, bagi beberapa kawasan yang memiliki jumlah kasus di atas 100, kami imbau untuk lebih mawas diri. Hal ini menandakan masih adanya infeksi penularan di klaster-klaster kecil. Jika tidak dikontrol dengan baik atau lengah dalam menjalankan protokol kesehatan, maka bukan tidak mungkin kita akan kembali menghadapi gelombang penularan komunitas berikutnya.”

Chen Hsiu-hsi melanjutkan, jika situasi saat ini dapat terus dipertahankan, maka kecil kemungkinan bagi Taiwan untuk masuk ke dalam status waspada level 4.

Dan apakah status waspada yang ada saat ini dapat dilonggarkan menjadi level dua? Chen Hsiu-hsi menjawab, ini semua membutuhkan kerja sama dari seluruh warga. Jika kepatuhan masyarakat mencapai taraf 90% dan dapat dipertahankan dalam waktu yang lama, maka pelonggaran status waspada akan diberlakukan.

Chen Hsiu-hsi kembali menjelaskan, tingkat kematian yang diakibatkan gelombang penularan domestik kali ini meningkat menjadi 1,64%. Dengan kata lain, proporsi kematian di Taiwan kian mendekati indeks rata-rata kematian global, yaitu 2,1%.

Hal tersebut disebabkan karena jumlah ranjang di rumah sakit yang tidak sebanding dengan jumlah pasien, sehingga banyak warga yang memiliki gejala parah tidak dapat ditangani tepat waktu.

Chen Hsiu-hsi berharap dalam kurun satu atau dua pekan mendatang, pemerintah pusat dan daerah segera memperkuat koordinasi, guna menangani warga yang memiliki gejala parah. Dengan demikian, angka kematian akibat COVID-19 dapat segera ditekan.

Menjawab polemik pengadaan vaksin dalam negeri, Chen Hsiu-hsi menyarankan pemerintah pusat harus berdasar pada payung hukum dan secepatnya memasok kapasitas vaksin. Pemerintah pusat harus lebih aktif lagi menerapkan proses vaksinasi bagi warga di Taiwan.

Chen Hsiu-hsi juga merasa optimis dengan pengembangan vaksin dalam negeri. Namun demikian, proses pengembangan vaksin Taiwan ternyata tidak secepat virus korona menyebar. Oleh karena itu, diimbau kepada pemerintah untuk secepatnya memasok vaksin dari luar negeri, sembari menunggu vaksin dalam negeri sukses dikembangkan.

Komentar

Terbarumore