(Taiwan, ROC) – Sekretaris Jendral Organisasi Kesehatan Sedunia atau WHO, Tedro Adhanom Ghebreyesus, pada hari Jumat tanggal 14 Mei waktu setempat menyampaikan jika pandemi COVID-19 telah mulai ada sejak tahun 2019, selain virus telah memberikan dampak pengaruh kepada semua sektor kehidupan sosial masyarakat, menyerang kehidupan manusia selama hampir 2 tahun, setiap negara di dunia juga tengah berlomba menciptakan sebuah program kerja yang mampu meliputi berbagai hal agar diri dapat segera mendapatkan perlindungan. Terkait masalah penyuntikkan vaksin COVID-19, untuk Taiwan sendiri hingga saat ini masih dibuka secara berjenjang, sesuai dengan kepentingan tugas dan mara bahaya yang harus dialami oleh masing-masing individu.
Sekjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus pada hari Jumat tanggal 14 Mei menyampaikan, perkembangan virus COVID-19 yang telah hampir memasuki 2 tahun, maka sekarang adalah masa perkembangan sang virus menuju ke tahapan yang lebih mematikan. Tedros mengimbau kepada negara-negara yang kaya, jika ada vaksin yang lebih, sebaiknya disumbangkan ke negara yang membutuhkan, dan bukan mengubah sasaran penerima vaksin menjadi ke anak-anak.
Dalam salah satu jumpa pers di Jenewa, Tedros Adhanom Gebreyesus menjelaskan jika pihaknya tengah berjalan menuju tahapan kondisi jika kasus pandemi telah ikut masuk ke kehidupan tahun ke dua, karena artinya virus akan terus melakukan mutasi dan semakin sulit untuk dientaskan.
Tedros menambahkan jika dirinya bisa memahami jika ada sebagian negara yang mungkin saja akan menglihkan vaksin yang tersisa untuk diberikan kepada anak-anak dan kalangan pemuda. Tetapi justru di saat inilah, dirinya secara khusus memikirkan dan mempertimbangkannya sekali lagi, memberikan sumbangan vaksin sisa kepada negara-negara yang lebih membutuhkan melalui Covax, platform penyedia khusus vaksin COVID—19