(Taiwan, ROC) – Perusahaan farmasi Pfizer di Amerika yang berkolaborasi dengan perusahaan BioNTech di Jerman, pada hari Minggu tanggal 4 April mengeluarkan surat pengumuman bahwa merujuk kepada uji klinis yang dilakukan belum lama ini, vaksin hasil kolaborasi kedua farmasi besar tersebut, mampu menghadapi serangan virus mutasi Afrika.
Dalam surat pengumuman tersebut juga disebutkan jika vaksin tersebut telah memasuki tahap uji ke tiga kalinya, bagi mereka yang telah mendapatkan vaksin dua dosis, hingga saat ini belum ditemukan adanya kasus virus mutasi Afrika.
Dikarenakan banyaknya kasus virus COVID-19 yang terus bermutasi, dan memiliki daya serang lebih kuat, maka berbagai vaksin yang telah ditemukan sebelumnya apakah mampu untuk mengentaskan penularan dari virus bermutasi tersebut, telah menjadi perhatian khalayak umum.
Pfizer dan BioNTech bersama menyatakan bahwa di Afrika Selatan, untuk kawasan yang rentan dengan jenis virus bermutasi B.1.351, telah ada 800 sukarelawan yang ikut serta untuk menerima pengetesan vaksin, dan dari hasil pengetesan tersebut diketahui ada 9 kasus COVID-19, dimana semuanya berada dalam kelompok placebo.
Dari 9 kasus tersebut, usai diurutkan sesuai dengan gen yang ada, ada 6 kasus merupakan virus mutasi jenis B.1.351.
CEO Pfeizer, Albert Bourla, menjelaskan, “Usai mendapatkan vaksin dosis ke dua, selang 6 bulan kemudian, dengan melihat kondisi pengentasan terhadap virus mutasi Afrika, diketahui memiliki daya efisien yang sangat tinggi, sehingga membuat kami lebih percaya diri dengan vaksin yang kami miliki untuk dapat selangkah lebih maju.”
Secara keseluruhan, dari hasil analisa di berbagai negara, dengan mengikutsertakan sebanyak 46.307 sukarelawan, vaksin hasil kolaborasi Pfeizer dan BioNTech, mampu menangkal serangan COVID-19 hingga mencapai 91,3%.