History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Ritual Arak-Arakan Dewi Mazu 2021 / Puisi “Rumah”

  • 05 April, 2021
  • 譚雲福
Ritual Arak-Arakan Dewi Mazu 2021 / Puisi “Rumah”
Ritual Arak-Arakan Dewi Mazu 2021 / Puisi “Rumah”

(Taiwan, ROC) – Kegiatan Ritual Arak-Arakan Dewi Mazu tahun ini akan dimulai tanggal 9 April 2021 mendatang, berlangsung selama 9 hari 8 malam, kali ini akan melewati 4 kota dan kabupaten. Konferensi pers kegiatan ini akan diselenggarakan pada tanggal 7 April 2021 yang sebenarnya pada konferensi pers akan ditayangkan sebuah sebuah puisi “Rumah”.

Puisi yang mana sebenarnya sudah selesai ditulis 10 hari lalu, dan telah selesai diedit 5 hari setelahnya, tadinya baru akan diperdengarkan dalam Konferensi Pers Internasional “Arak-Arakan Dewi Mazu” pada tanggal 7 April 2021. Namun tragedi kereta Taroko tanggal 2 April pada hari pertama liburan long week end Ceng Beng dan Festival Anak-Anak, kecelakaan kereta keluar dari rel paling mengenaskan dalam 40 tahun terakhir yang mengakibatkan banyak korban tewas dan luka-luka. Tragedi Taroko layaknya sebuah batu besar yang menimpa hati setiap insan yang peduli dengan peristiwa ini, keterkejutan, kecemasan, kemarahan, ketidakpuasan, kesedihan, keberontakan dan berbagai gelombang emosi datang menyerang, hingga membanjiri perhatian berita global.

Liburan panjang yang sebenarnya merupakan waktu untuk pulang kampung berziarah ke makam leluhur dan suasana gembira dapat berkumpul bersama keluarga ini dalam sekejab berubah layaknya datangnya awan gelap di hari yang cerah. Berapa banyak keluarga yang terpencar, berapa banyak orang yang mengalami depresi. Setiap insani sepertinya khawatir dan kebingungan, setiap nurani kehilangan kepercayaan dan ketenangan menghadapi peristiwa ini. 

Menyaksikan berita yang terus menerus melaporkan situasi dan kondisi tragedi ini, melihat apa yang dipedulikan oleh orang-orang di sekeliling, untuk itu kami memutuskan menayangkan puisi “Rumah” lebih awal dari yang dijadwalkan, dengan harapan kearifan dan kedamaian dapat menstabilkan hati setiap insani, mereka yang membaca tulisan puisi ini juga dapat terus menulis puisi dengan caranya sendiri.

Puisi, bukanlah karya literatur yang klasik. Puisi adalah pembuka pikiran murni dalam hati. Kita semua adalah insani dalam tragedi ini, berkewajiban menggandeng tangan yang berjiwa untuk bersama kembali. Membaca tanpa bersuara juga adalah puisi, agar pengorbanan setiap sang roh hati, mampu berubah menjadi bagian dari suara puisi.

Komentar

Terbarumore