(Taiwan, ROC) Laporan riset terbaru dari Asosiasi Industri Semikonduktor (SIA) Amerika Serikat (AS) membeberkan, rantai pasokan semikonduktor global menjadi semakin rentan terhadap bencana alam dan kekacauan geopolitik, lantaran pemasok semakin terkonsentrasi di area tertentu saja.
Masalah kekurangan chip global mulai terjadi sejak akhir tahun lalu (2020), menyebabkan adanya situasi permintaan yang membludak pada manufaktur semikonduktor Taiwan. Ditambah terjadinya kebakaran besar pada salah satu pabrik semikonduktor yang ada di Jepang, putusnya pasokan listrik karena dilanda badai salju yang terjadi di Texas, AS, dan kondisi Taiwan yang saat ini dilanda kekeringan, semua ini telah memperparah kekurangan chip global. Beberapa lini produksi pembuat mobil di AS, Eropa, dan Asia terpaksa memberhentikan produksinya, lantaran kekurangan pasokan komponen chip tersebut.
Proses manufaktur semikonduktor saat ini melibatkan ribuan langkah, dan butuh untuk mengumpulkan hak kekayaan intelektual, peralatan, dan bahan kimia yang kompleks dari seluruh dunia. Namun, SIA (Asosiasi Industri Semikonduktor) AS, yang mewakili sebagian besar produsen chip di negeri Paman Sam, pada tanggal 1 April mengemukakan, ada lebih dari 50 tempat dalam rantai pasokan semikonduktor, di mana salah satu wilayah telah menyumbang sebanyak 65% dari pangsa pasar.
Misalnya, hak kekayaan intelektual dan perangkat lunak yang diperlukan untuk merancang chip canggih didominasi oleh AS, dan gas khusus yang digunakan dalam membuat chip dipasok oleh Eropa. Selain itu, pembuatan chip paling maju dilakukan di Asia, dan Taiwan telah mendominasi 92% darinya.
Apabila Taiwan tidak dapat memproduksi chip selama 1 tahun, maka pendapatan elektronik global akan berkurang sebanyak US$ 500 miliar (sekitar NT$ 14,27 Triliun). SIA mengatakan, “rantai pasokan elektronik global akan berhenti total.”
Selain itu, SIA juga memperingatkan, upaya pemerintah untuk mereplikasi rantai pasokan di dalam negeri tidak akan berhasil, karena secara global akan menelan biaya sebanyak 1,2 triliun dolar AS, dan AS sendiri akan menelan biaya sebanyak 450 miliar dolar AS, yang akan menyebabkan harga chip meroket.
Tetapi SIA merasa, dalam kondisi saat ini, dapat memberikan insentif atau rangsangan, untuk membangun "kapasitas produksi minimum yang layak" di daerah yang tidak memiliki rantai pasokan chip.