(Taiwan, ROC) – Badan otoritas yang memiliki hak untuk bidang obat-obatan di kawasan Uni Eropa, European Medicines Agency atau EMA pada hari Kamis tanggal 11 Maret mengusulkan kepada Komisi Eropa dapat mempertimbangkan vaksin hasil produksi Johnson & Johnson secara bersyarat, dalam turut serta memerangi virus COVID-19.
Pihak EMA menyarankan dapat memberikan perizinan bagi vaksin Johnson & Johnson, agar dapat turut masuk ke dalam medan perang melawan COVID-19, sehingga turut serta meningkatkan jumlah kuantitas produk vaksin yang dibutuhkan di kawasan Uni Eropa, serta turut mempercepat langkah kebijaksanaan program penanggulangan dan pencegahan pandemi di Uni Eropa.
Usai pihak Komisi Eropa mengambil keputusan terakhir, maka vaksin hasil produksi perusahaan Johnson & Johnson secara resmi menjadi vaksin yang ke empat yang dapat dipergunakan oleh masyarakat Uni Eropa. Sementara itu pihak EMA menyarankan jika pemberian vaksinasi dapat diberikan kepada mereka yang berada pada usia di atas 18 tahun.
Sebelumnya, pihak Uni Eropa juga telah meloloskan 3 jenis vaksin lainnya, antara lain vaksin hasil kerjasama Pfizer dan BioNTech, vaksin Moderna dan perusahaan farmasi terbesar di Inggris yakni AnstraZeneca yang bekerjasama dengan Oxford University. Perbedaan ketiga vaksin ini dengan vaksin Johnson & Johnson adalah harus melakukan prosedur penyuntikan vaksin selama 2 kali.
Amerika, Kanada dan Brazil juga telah memberikan perizinan vaksin Johnson & Johnson, yang kemudian diikuti oleh Afrika Selatan, dimana kini tengah memasuki tahapan pemeriksaan tahap akhir.
Presiden EMA, Emer Cooke mengatakan, “Seiring dengan berbagai usungan baru yang ada, maka negara-negara yang termasuk dalam keanggotaan Uni Eropa, bisa memiliki pilihan baru dalam hal vaksinasi, sehingga dapat digunakan untuk melawan serangan penyakit musiman, melindungi nyawa dan kesehatan warga masyarakat.”
Komisi Eropa juga diprediksi akan segera memberikan perizinan bagi perusahaan Johnson & Johnson agar dapat turut serta masuk ke dalam medan perang. Pihak Komisi Eropa juga akan memberikan Conditional Marketing Authorization atau CMA, maka vaksin Johnson & Johnson jika tidak memiliki masalah adalah hal kemampuan pencegahan lainnya dan mendapatkan data informasi yang lengkap berkenaan dengan efek samping yang mungkin bisa ditimbulkan akibat vaksin, maka pihak Uni Eropa akan menggunakannya selama 1 tahun untuk kebutuhan masyarakat dalam negeri.
Vaksin Johnson & Johnson usai melewati serangkaian pemeriksaan yang ketat dan berskala besar, persentase perlindungan yang dapat dicapai oleh vaksin Johnson & Johnson adalah 66%. Meskipun dikategorikan rendah, namun hanya perlu melakukan penyuntikan vaksin sekali saja. Oleh sebab itu, hasil riset ditemukan jika vaksin Johnson & Johnson memiliki keampuhan dalam hal menghadapi virus yang bermutasi.