(Taiwan, ROC) -- Pada tanggal 17 Februari yang lalu, Aparat Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengemukakan, beberapa pekan yang lalu Agen Federal AS telah menahan sekitar 10 juta masker N95 palsu, yang tercetak logo perusahaan 3M (3M Co.) di setiap produk masker tiruan tersebut. Agen federal AS pun meminta agar ribuan rumah sakit dan klinik kesehatan segera menghentikan penggunaan masker yang diduga adalah produk palsu.
Menilik laporan dari The Wall Street Journal (WSJ), Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) AS menyampaikan, masker palsu tersebut adalah buatan Tiongkok. Beberapa hari yang lalu (17/2), sebanyak ratusan ribu masker palsu berhasil disita di sebuah gudang Pantai Timur, yang lokasinya dirahasiakan.
Aparat DHS mengemukakan, berdasarkan petunjuk dari perusahaan 3M, mereka pun berhasil menyelidiki dan menyita produk masker palsu yang telah dipasarkan ke 5 negara bagian di AS, serta akan melakukan penyelidikan lebih lanjut.
Direktur Kekayaan Intelektual dari Unit Investigasi Keamanan DHS AS, Steve Francis dalam konferensi pers mengatakan, “Mereka (Masker Imitasi) sangat berbahaya. Mereka memberikan rasa aman palsu bagi para tenaga medis yang berdiri di garda terdepan serta para konsumen AS.” Pejabat AS juga mengemukakan, penyebab terungkapnya keberadaan produk palsu tersebut adalah terdapat kesalahan tata bahasa atau kesalahan ejaan pada kemasan atau petunjuk pemakaian pada produk masker imitasi. Mereka juga telah menghubungi sekitar 6000 rumah sakit, klinik, serta fasilitas kesehatan lainnya yang mungkin saja membeli masker imitasi, untuk menghentikan penggunaan masker-masker tersebut dan segera menghubungi pihak DHS.
Pejabat DHS menuturkan, DHS sedang bekerja sama dengan Departemen Kehakiman AS dalam penuntutan pidana yang melibatkan oknum pembuat dan penjual masker tiruan tersebut.
Menanggapi penipuan dan aktivitas kriminal terkait COVID-19, DHS meluncurkan dan menggalakkan operasi yang memiliki nama kode “Operation Stolen Promise”, penyitaan masker palsu pun merupakan bagian dari operasi tersebut.