(Taiwan, ROC) -- Radio Taiwan Internasional dalam acara berbahasa Mandarin “Waktu Bersama Yang Sen-hong – Layanan bagi Masyarakat” yang ditayangkan hari Rabu (3/2) menghadirkan wawancara khusus yang menarik dengan Menteri Kebudayaan, Lee Yung-te. Selain membicarakan bagaimana Kementerian Kebudayaan memberikan bantuan pada kelompok seniman untuk dapat melewati masa sulit akibat merebaknya epidemi COVID-19, topik menarik lainnya adalah masalah transformasi Gedung Peringatan Chiang Kai-shek.
Menteri Lee Yung-te menyampaikan, masalah transformasi CKS sangat sensitif, pendapat dua sisi saling berlawanan satu sama lain, sebelumnya ada orang yang mengusulkan untuk mencabut patung perunggu Chiang Kai-shek, bahkan gedungnya juga, tetapi setelah melalui diskusi dan penjelasan dari pakar, mereka yang berpendapat ingin membongkar tersebut sudah dapat menerima untuk menggunakan cara bertahap, tidak perlu tergesa-gesa membongkar patung perunggu, melainkan harus memprioritaskan penyajian kebenaran sejarah, menunjukkan kebenaran dan kekurangannya. Banyak orang yang dapat menerima kesepakatan ini, Lee Yung-te beranggapan langkah pertama yang paling penting adalah mencabut jubah mitos, tetapi hal ini masih belum dibicarakan dengan Yuan Legislatif sehingga masih belum ada jadwal, meskipun demikian akan dengan agresif menyelesaikannya.
Lee Yung-te mengatakan, “Agar semua orang dapat memahami orang ini, jangan hanya dari satu pihak mendewakan dia, saya pikir ini adalah langkah pertama, sebenarnya setelah melalui ini baru kita diskusikan lagi, apakah ingin dibongkar atau tidak? Sebenarnya saya menjunjung semuanya, kami belum mengetahui tetapi metode yang digunakan sekaran ini adalah bertahap. Hal ini harus melalui banyak diskusi dan komunikasi, untuk itu saya tidak ada jadwal waktu, tetapi kami pasti akan melakukannya dengan agresif.”
Menteri Kebudayaan Lee Yung-te menyampaikan, insiden 28 Februari, terror putih merupakan sejarah luka Taiwan, banyak pendapat yang berbeda dalam bagaimana menyembuhkannya, tetapi bukan berarti hanya dengan menutupinya saja, Lee menggunakan contoh pemimpin diktator Spanyol, Francisco Franco yang meninggalkan luka dalam sejarah perang saudara Spanyol, pada awalnya memilih untuk melupakan, tetapi setelah selang 20 – 30 tahun kemudian masyarakat Spanyol tetap tidak bisa melupakannya dan merasa seharusnya mencari kebenaran dan penanggung jawab dari sejarah ini, untuk itu akhirnya meminta agar jasad Francisco Franco dipindahkan dari yang tadinya ditempatkan di makam pahlawan untuk mengenang mereka yang tewas dalam perang saudara Spanyol. Lee Yung-te merasa dalam upaya Taiwan melakukan tranformasi kebenaran seharusnya sama dengan Spanyol.
Lee Yung-te menegaskan, ia mengerti perasaan dari masing-masing orang, ada emosi yang ingin dilepaskan, iapun memahami hal tersebut, baik itu yang sebelumnya datang ke Taiwan bersama Chiang Kai-shek maupun keluarga yang tewas dibunuh oleh Chiang Kai-shek, semua suara ini akan didengar dengan sepenuh hati. Tetapi ia juga dengan sejujurnya mengatakan, dikhawatirkan tidak peduli tindakan apa yang diperbuat pasti tidak dapat memuaskan kedua belah pihak, meskipun demikian ia bersedia menanggungnya.