(Taiwan, ROC) --- Polemik pelanggaran protokol pencegahan pandemi warga Selandia Baru masih menjadi pembicaraan hangat di Taiwan. Pihak maskapai penerbangan EVA Air juga telah memberikan pernyataan mereka, dan memutuskan untuk memberhentikan posisi sang pilot tersebut.
Menanggapi keputusan EVA Air di atas, Ketua Pusat Komando Epidemi Sentral (CECC), Chen Shih-chung menyampaikan, pihak maskapai seharusnya mengusulkan langkah penerapan manajemen pengendalian pandemi bagi kru pesawat mereka.
CECC juga tidak menutup kemungkinan untuk memperpanjang masa isolasi rumah para awak pesawat atau bahkan mengurangi jadwal penerbangan, jika tidak ada tanggapan positif dari pihak maskapai.
Pilot asal Selandia Baru (kasus 765) dinilai tidak menjalankan prosedur pengendalian pandemi sebagaimana mestinya. Ia sering kali tidak mengenakan masker saat berada di dalam kabin pesawat.
Di samping itu, ia pun diketahui sempat keluyuran ke berbagai tempat saat menjalankan prosedur swakontrol kesehatan (self health management monitoring). Akibat perbuatannya itu, 3 orang lainnya terpapar virus korona.
Perbuatan tidak terpuji tersebut mendatangkan reaksi keras di tengah masyarakat. Pihak CECC juga telah meminta Civil Aeronautics Administration (CAA) dan EVA Air untuk mengusulkan penguatan penerapan langkah pencegahan pandemi. CECC pun meminta kedua instansi tersebut, untuk menyelesaikan laporan terkait dalam 1 pekan ini.
Pada tanggal 23 Desember 2020, EVA Air telah merilis pernyataan mereka dan menyatakan pemberhentian posisi sang pilot.
Dalam sebuah program wawancara di radio (24/12), Chen Shih-chung menyampaikan, hal ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan memecat sang pilot terkait.
CECC pada mulanya menyetujui untuk mempersingkat waktu "isolasi mandiri" kru pesawat, guna mempertimbangkan intensnya jam terbang para awak. Namun demikian, manajemen pengaturan pihak maskapai dinilai memiliki celah, yang ditakutkan dapat memperparah situasi penularan domestik.
Melalui rekaman video, CECC juga dapat memeriksa kedisiplinan para kru pesawat saat berada di dalam kabin, meliputi penggunaan masker selama perjalanan.
Chen Shih-chung pun meminta kepada pihak maskapai untuk menjelaskan prosedur manajemen pengendalian pandemi yang diberlakukan kepada awak mereka.
Jika permintaan tersebut tidak ditanggapi, bukan tidak mungkin bagi CECC untuk memperpanjang masa isolasi mandiri para kru atau bahkan mengurangi jam terbang.
Chen Shih-chung mengatakan, "Ada kesalahan, tentu akan ada hukuman. Saya setuju dengan sikap seperti demikian, yang akan membuat kita semua menjadi lebih waspada. Namun, yang saya mau adalah meminta pihak maskapai untuk lebih aktif lagi. Dahulu kami mempercayai mereka, dan SOP yang mereka terapkan juga efektif. Tetapi yang saya ingin tahu lebih jelas, adalah bagaimana mereka mempraktikkan SOP tersebut di lapangan. Jika SOP tadi tidak benar-benar dilakukan, tentu akan saya ganjar dengan sanksi di masa mendatang. Kemarin pagi kami melakukan pertemuan, tetapi saya perintahkan mereka untuk meninggalkan ruang rapat dan segera berikan kami jawaban. Jika tidak, kami akan tindak langsung."
Chen Shih-chung menyampaikan, dirinya tentu tidak berharap memperpanjang masa isolasi para kru pesawat, mengingat intensitas terbang mereka cukup tinggi setiap harinya.
Tanpa ventilasi yang baik dan kondisi mental yang stabil, maka dicemaskan dapat berimbas pada keselamatan penerbangan.
Hal di atas dapat dihindari, jika perusahaan maskapai memperketat prosedur penanggulangan pandemi mereka.