(Taiwan, ROC) --- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) membenarkan jika varian baru virus korona yang ditemukan di Inggris memiliki dampak penularan yang lebih signifikan. Namun demikian, mutasi COVID-19 tersebut dipastikan masih terkontrol dengan baik dan protokol kesehatan yang diterapkan banyak negara saat ini memiliki efek yang ampuh untuk memutuskan rantai penularan.
Selaku Direktur Eksekutif Program Perencanaan Darurat WHO, Michael Ryan menyampaikan, "Dalam periode waktu tertentu, pandemi ini telah menyebabkan tingkat infeksi yang jauh lebih tinggi dan kita semua masih dapat mengendalikannya."
Michael Ryan melanjutkan, situasi saat ini bukan berarti tidak dapat dikendalikan. Namun demikian, jangan sampai kita mengabaikannya.
Menteri Kesehatan Inggris, Matt Hancock menyampaikan jika varian baru COVID-19 telah berada di luar kendali. Pejabat Inggris lainnya mengemukakan jika mutasi virus ini memiliki efek penularan yang lebih tinggi, yakni berkisar 70%.
Menanggapi hal tersebut, Michael Ryan menjawab, protokol kesehatan yang dipromosikan saat ini adalah cara terampuh. Ia mengimbau kepada seluruh warga dunia untuk terus menerapkannya atau dapat meningkatkan prosedur pengendalian pandemi.
Jika dilakukan dengan benar dan tepat, maka penularan virus korona dapat dikendalikan dengan maksimal.
Selain Inggris, Afrika Selatan juga menemukan kasus COVID-19 yang bermutasi. Oleh karena itu, sekitar 30 negara telah mengumumkan penolakan orang atau barang dari Inggris atau Afrika Selatan untuk mencegah penyebaran wabah tersebut.
Selain Inggris, mutasi virus korona juga ditemukan di Afrika Selatan. Beberapa negara di dunia juga telah merilis perintah penutupan di pintu perbatasan mereka dan menolak warga yang datang dari kedua negara tersebut.
Michael Ryan melanjutkan, prosedur pengendalian pandemi harus tetap diperkuat dan digalakkan. Meski mutasi virus korona ini memiliki tingkat penularan yang lebih tinggi, tetapi kita masih memiliki kemampuan untuk menghentikannya.