(Taiwan, ROC) – Program “Mencari Bunda ke 2” yang telah diberlangsungkan sejak awal tahun 2020, kini kembali membuahkan hasil pertemuan yang menggembirakan. Seorang mahasiswi NTU jurusan hukum Wang Rou-yu dengan menggunakan program yang diusung oleh RTI, media Commonwealth Taiwan dan instansi lainnya, akhirnya berhasil menemukan kembali bunda ke dua nya, seorang pekerja migran asal Vietnam A Yen, yang telah berpisah dan tidak pernah berhubungan selama 10 tahun terakhir. Pada hari Jumat tanggal 11 Desember, Wang Rou-yu dengan tawa lepas, ia menuturkan jika beban yang ada pada dirinya terlepas sudah. Sementara A Yen, yang kini berada di Vietnam sembari tertawa dan meneteskan air mata, bahkan sempat beberapa kali mengeluarkan berbagai foto kenangan, kartu ucapan selamat ulang tahun yang dulu sempat diberikan oleh Wang Rou-yu kepada A Yen, yang mana semuanya masih tersimpan baik sebagai memori kehidupan yang tak terlupakan selama ia bekerja di pulau Formosa.
Wang Rou-yu mengatakan, “Sungguh sangat cepat! Sangat terharu dan kemarin tidak dapat tidur. Saya ada melihatnya, dan saya sangat terharu.” Demikianlah yang disampaikan oleh Wang Rou-yu, seorang mahasiswi tingkat 4 jurusan hukum di National Taiwan University, yang belakangan ini mendaftarkan diri untuk dapat mengikuti program “Mencari Bunda ke-2” yang diusung oleh Radio Taiwan Internasional. Sementara A Yen sendiri, pertama kali datang ke Taiwan adalah tahun 2000, dan bekerja di rumah keluarga Wang Rou-yu untuk menjaga kakeknya. Karena A Yen sendiri tidak memiliki anak, maka saat dirinya tiba di rumah keluarga Wang, A Yen juga turut memperlakukan ke tiga bersaudara yang ada di dalam rumah bagaikan anaknya sendiri, hingga November 2007, Wang Rou-yu yang baru berusia 8 tahun harus menerima kenyataan jika A Yen harus kembali pulang ke negaranya.
Wang Ru-yu menjelaskan bahwa pada tahun baru imlek tahun 2015, A Yen sebenarnya sempat menelepon kepada mereka, dan kebetulan saja ia yang menjawab telepon A Yen, namun karena telepon yang datang secara mendadak, maka semua perasaan gundah gulana malah membuat atmosfir suasana percakapan dalam telepon menjadi hening dan dingin. Wang hendak mengucapkan terima kasih, namun tak mampu diungkapkannya, sehingga dering telepon hari itu menjadi yang terakhir kali, sehingga berkelanjutan menjadi beban rindu besar yang terbentuk selama 6 tahun.
Wang Rou-yu mengatakan, “Yang paling menyesalkan adalah saat itu saya tidak meminta data A Yen, malah masih terus memikirkan mungkin A Yen masih akan mnecoba menelepon kembali. Untuk itu, saya juga mengingatkan diri untuk dapat meminta data penghubung A Yen jika ia menelepon kembali, atau bercerita lebih banyak lagi, namun akhirnya memang tidak pernah ada lagi telepon dari A Yen.”
Wang Rou-yu mengira jika di rumah nenek atau keluarga ibu, mungkin masih memiliki data A Yen, sehingga kembali beranggapan bahwa mencari A Yen tidak akan menjadi satu masalah yang sulit. Akan tetapi, telepon terakhir tersebut memang pertanda sebuah keputusan hubungan tali silahturahmi, terlebih-lebih di saat pandemi yang kini mengoyak ganas di Asia Tenggara. Saat Wang Rou-yu tidur pun, dirinya kerap bermimpi menemukan A Yen, namun saat bangun didapati wajahnya basah tersapu air mata. Untuk itu, saat membaca kisah dan program yang diusung oleh RTI, Wang Rou-yu juga segera memutuskan diri untuk dapat mencoba menemukan kembali bunda ke duanya yang dulu sempat mengasuhnya saat masih balita.
Berkat bantuan dari koordinator RTI siaran bahasa Vietnam, Yen Li dan juga Fan Zhao Yun, anak A Yen berhasil membaca tulisan yang diunggah di dalam facebook, dan tidak sampai satu hari, A Yen pun berhasil ditemukan, meskipun melalui jejaring sosial media facebook. Setelah sempat berkomunikasi melalui sosial media, barulah diketahui jika A Yen sengaja menjauhkan dirinya dari keluarga Wang karena ada rasa sungkan dan tidak rela serta takut jika memori sebelumnya menjadi sebuah bayangan semata yang akan berlanjut dengan kesedihan berkepanjangan. Di sisi lain, karena A Yen harus fokus menjaga suaminya, dimana sang suami mengalami kecelakaan dan kakinya patah.
A Yen tidak pernah membayangkan jika keluarga Wang, khususnya anak-anak masih terus mengingat dirinya. Selama beberapa tahun terakhir, A Yen tidak memberanikan diri untuk menelepon, karena kondisi keluarganya sendiri yang tidak baik, menjalani kehidupan dalam kondisi yang sangat berat dan berbeban. Namun melalui program “Mencari Bunda ke-2” yang diusung oleh RTI, kembali dapat bertemu dengan Wang Rou-yu juga membuat dirinya menjadi bersemangat kembali untuk menghadapi tantangan kehidupan di kedepannya.