Menurut laporan dari media Jepang, Yomiuri Shimbun, pemerintah Jepang khawatir jika hasil pemilihan presiden Amerika Serikat akan tertunda, dan mungkin dapat mempengaruhi keamanan kawasan Asia timur. Misalnya Korea Utara mungkin dapat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk meluncurkan rudal balistik, atau adanya intervensi dari Negeri Tirai Bambu di bagian timur dan selatan Laut Tiongkok.
Kementerian Luar Negeri Jepang mengemukakan, bahwa Korea Utara memiliki kecenderungan akan meluncurkan rudal balistik untuk menarik perhatian selama masa transisi pemerintahan AS. Ada juga analisis di dalam pemerintah Jepang yang merasa bahwa perlu untuk tetap waspada terhadap tindakan provokatif dari Negeri Panda di kawasan laut Tiongkok bagian timur dan selatan.
Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Kato Katsunobu, pada tanggal 5 November membeberkan, apapun situasi dalam pemilihan presiden AS, ia berharap untuk dapat memastikan perdamaian dan keamanan. Ia juga mengemukakan, akan terus menjaga kerjasama yang erat dengan pemerintah AS, memperhatikan dan mengumpulkan informasi serta menganalisis berkenaan dengan perkembangan keamanan wilayah yang terkait
Pemilu AS juga dapat berdampak pada beban negosiasi Jepang untuk militer AS di Jepang. Perjanjian khusus yang menetapkan beban Jepang akan berakhir pada akhir Maret tahun depan, AS dan Jepang harus mencapai konsensus dalam tahun ini.
Meski pihak Jepang berniat ingin memulai negosiasi secara resmi pada bulan November. Tetapi beberapa pejabat senior mengemukakan, bahwa Amerika Serikat tampaknya belum bisa menyelesaikan persiapan untuk negosiasi tersebut.
Selain itu, Kantor Berita Jiji melaporkan bahwa pemerintah Jepang menilai bahwa Presiden AS, Donald Trump mengajukan beberapa tuntutan hukum terhadap pemilu saat ini, dan mungkin perlu beberapa saat baru dapat memastikan hasil pemilu AS. Perdana Menteri Jepang, Yoshihide Suga, tidak akan terburu-buru mengucapkan selamat hingga hasil pemilu AS sudah dikonfirmasi.