(Taiwan, ROC) – Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tanggal 11 September telah meloloskan satu keputusan, yakni meminta semua negara di dunia dapat bersama memusyawarahkan secara keseluruhan dalam mengantisipasi serangan pandemic COVID-19. Dalam keputusan tersebut juga meliputi pengakuan akan peran WHO. Namun Amerika memberikan suara tidak setuju terhadap keputusan yang diloloskan tersebut.
PBB sendiri terus melakukan upaya komunikasi dan negosiasi sejak bulan Mei lalu. Dan keputusan mendapat dukungan dari negara anggota, sehingga berhasil lolos pada tanggal 11 September. Dari 193 negara anggota, ada 169 negara yang memberikan suara setuju, sementara negara Ukraina dan Hongaria tidak menggunakan hak suaranya.
Karena pandemi meliputi beragam aspek dan elemen, maka keputusan yang diambil disebut sebagai “Resolusi Campuran”. Dalam pasal butir di dalamnya, disebutkan secara jelas peran WHO selaku pemimpin di dalam menghadapi COVID-19, dan juga peran dasar yang dimiliki oleh PBB sendiri.
Amerika pada musim semi tahun ini mengumumkan jika pihaknya mengundurkan diri dari keanggotaan WHO, menuding WHO tidak benar-benar menyelesaikan masalah pandemi, sehingga menghambat semua negara di dunia dalam hal pemberian peringatan.
Dalam laporan keputusan tersebut juga disebutkan mengimbau semua pihak dapat memperkuat kerjasama internasional dan bersatu padu dalam menghadapi pandemi, hingga kondisi COVID-19 benar-benar dapat dikontrol.
Selain itu, dalam laporan keputusan tersebut juga menyebutkan dukungan bagi Sekretaris Jendral PBB, Antonio Guterres, khususnya dalam pemberian imbauan penghentian pertikaian yang disampaikannya pada bulan Maret silam. Namun sayangnya, imbauan Antonio Guterres tidak mendapat respon dunia.
Dalam laporan keputusan tersebut juga mengimbau agar semua pihak dapat segera mengesampingkan semua kendala yang tidak adil, dengan demikian baru dapat memperlancar tugas pengiriman produk barang pencegahan pandemi.