History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Artikel Menlu MOFA di Media Portugal “Publico”

  • 08 September, 2020
  • 尤繼富
Artikel Menlu MOFA di Media Portugal “Publico”
Artikel Menlu MOFA di Media Portugal “Publico”

(Taiwan, ROC) --- Pada tanggal 7 September 2020, media Portugal "Publico" menerbitkan artikel yang ditulis oleh Menteri Luar Negeri Republik Tiongkok - Joseph Wu (吳釗燮). Joseph Wu menuliskan, mengesampingkan keberhasilan Taiwan dalam menerapkan nilai demokrasi dan menekan penyebaran pandemi telah melanggar visi yang tertuang dalam Deklarasi Peringatan PBB. Beliau menyerukan kepada PBB untuk bertindak lebih inklusif dan objektif

Menteri MOFA menuliskan, dunia internasional telah mengalami pukulan berat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kecamuk COVID-19 telah mempengaruhi seluruh aspek kehidupan warga global.

Komunitas internasional sudah seharusnya mempererat kerja sama yang lebih erat, guna mencapai masa depan yang berkelanjutan, seperti yang diharapkan setiap anggota negara PBB. Taiwan telah siap, mau dan mampu untuk turut serta mewujudkan hal ini.

Joseph Wu menekankan, kinerja Taiwan selama ini telah berhasil melampaui ekspetasi semua pihak. Hingga hari ini, jumlah kasus positif COVID-19 di Taiwan masih berada di bawah angka 500. Ini merupakan prestasi pengendalian epidemi yang membanggakan.

Semua pihak bekerja sama menyukseskan Taiwan dalam mengendalikan rantai penularan domestik, meliputi Pusat Pengendalian Epidemi Sentral (CECC), penerapan kontrol di kawasan perbatasan dan prosedur karantina.

Di samping itu, seluruh informasi terkait pengendalian epidemi di dalam negeri, juga terbuka dan sangat transparan.

Pemerintah Taiwan juga segera mengambil tindakan cepat untuk memastikan Asuransi Kesehatan Nasional (NHI) memiliki kapasitas medis yang memadai. Mekanisme jaminan kesehatan NHI juga merupakan salah satu yang terbak di dunia.

Setelah memastikan kebutuhan medis dalam negeri berada di level yang mencukupi, pemerintah Taiwan pun mulai mengirimkan pasokan bantuan medis ke negara-negara yang membutuhkan.

Hingga akhir bulan Juni, Taiwan telah mendonasikan 51 juta masker medis, 1.16 juta masker N-95, 600.000 helai Alat Perlindungan Diri (APD), 35.000 termometer dan alat penunjang medis lainnya.

Bantuan-bantuan tersebut disumbangkan ke Amerika Serikat dan negara-negara sahabat, dengan total mencapai 80 negara. Bersama dengan negara yang menganut paham demokratis, Taiwan juga tengah mengembangkan penelitian vaksin dan obat penawar COVID-19.

Di dalam artikel tersebut, Joseph Wu juga menuliskan bahwa tahun ini menandai peringatan 75 tahun penandatanganan "Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa". Dalam deklarasi tersebut tertuang bahwa setiap otoritas negara anggota sepakat jika solidaritas global merupakan satu-satunya penawar ampuh menangani dan mengakhiri pandemi.

Namun, jika Taiwan terus mengalami pengucilan dari organisasi PBB, dicemaskan dapat menjadi celah dalam penanganan penularan epidemi. Apalagi Taiwan merupakan salah satu pihak yang paling berhasil menerapkan paham demokrasi

Joseph Wu juga menerangkan, dengan dikesampingkannya Taiwan dari badan dunia, hanya akan merugikan komunitas global. Hal ini juga dicemaskan akan menghambat pemulihan negara-negara anggota PBB dalam mengembalikan situasi kehidupan normal setelah terdampak COVID-19. Apalagi PBB tengah mempromosikan "Agenda Pembangunan Berkelanjutan Tahun 2030".

Prestasi luar biasa Taiwan dalam mempromosikan wacana "Pembangunan Berkelanjutan", disinyalir dapat membantu negara-negara dunia untuk memulihkan situasi yang ada.

Sedari dahulu, Taiwan juga telah membantu negara-negara mitra yang tersebar di berbagai pelosok dunia, meliputi Benua Afrika, Asia, Perairan Karibia, Perairan Pasifik dan Amerika Latin. 

Bantuan yang diberikan Taiwan mencakup ragam aspek pembangunan, misal energi bersih, pengelolaan limbah dan pencegahan bencana. Prestasi-prestasi tersebut juga menjadi bukti kuat akan peran aktif Taiwan dalam dunia global.

Di bagian penutup, Menteri MOFA menuliskan, "Jika Taiwan memiliki kesempatan untuk turut dalam kegiatan, pertemuan atau mekanisme PBB, Taiwan akan menyumbangkan lebih banyak kontribusi. Sekarang masih belum terlambat untuk menyambut Taiwan, dan mewujudkan deklarasi PBB untuk masa 75 tahun berikutnya".

Komentar

Terbarumore