(Taiwan, ROC) – Pandemi COVID-19 di negara Prancis kembali mengganas, pada hari Kamis tanggal 3 September waktu setempat, pihak pemerintah setempat menggelontorkan dana revitalisasi senilai EU$ 100 milyar atau setara dengan NT$ 6,47 triliun. Adapun dana revitalisasi ini ditujukan untuk program pengadaan lapangan pekerjaan baru, memberikan bantuan subsidi kepada perusahaan-perusahaan yang terkena dampak akibat serangan pandemi. Dana subsidi ini merupakan program bantuan terbesar yang sempat diluncurkan oleh pemerintah setempat setelah perang dunia ke dua dalam hal membangkitkan kembali kondisi perekonomian yang kini tengah berada dalam kondisi melemah.
Media Associated Press memberitakan bahwa sebelum adanya program bantuan revitalisasi ini, Perdana Menteri Prancis Jean Castex, saat diwawancara oleh RTL Radio menyampaikan bahwa program dana subsidi ini diharapkan mampu menciptakan sebanyak 160 ribu lapangan pekerjaan yang baru pada tahun depan, dan menaikkan pertumbuhan perekonomian Prancis seiring dengan akan segera digelarnya pemilu presiden setempat pada tahun 2022, dan setidaknya mampu mengembalikan kondisi perekonomian Prancis hingga ke standar tahun 2019.
Program yang diluncurkan ini disebut France Reboot, yang meliputi peremajaan bangunan, pemberdayaan jalur kereta api dan pengurangan polusi karbon.
Dalam laporan yang didapatkan pada hari Jumat tanggal 4 September, tercatat penambahan kasus baru sebanyak 7 ribu pasien, menjadi jumlah penambahan terbanyak dalam satu hari. Angka ini juga melebihi jumlah kasus positif terinfeksi per hari yang tercatat di bulan Mei maupun bulan Juni, dimana setiap harinya hanya berkisar pada angka ratusan pasien baru. Pandemi COVID-19 yang berlangsung hingga saat ini di kawasan Prancis, telah menelan korban jiwa sebanyak 30.600 orang.
Meskipun jumlah pasien positif terinfeksi terus mengalami peningkatan, namun pihak sekolah dan universitas setempat masih terus melakukan pengoperasiannya, dan pihak pemerintah juga terus mengimbau agar para pekerja dapat kembali melakukan aktivitas dan tugas kesehariannya seperti sedia kala.
Media AFP memberitakan bahwa Perdana Menteri Prancis Jean Castex mengatakan, “Memberantas pandemi dan mendorong roda perputaran perekonomian agar dapat menghindari terjadinya pengangguran, adalah program penting yang paling utama, oleh sebab itu program ini diharapkan dapat benar-benar mulai diterapkan per tahun 2021, dengan turut menyediakan sebanyak 160 ribu lapangan pekerjaan yang baru bagi masyarakat.”
Pemerintah Prancis memprediksi bahwa angka GDP pada tahun 2020 akan menyusut hingga mencapai 11%, sementara jumlah pengangguran di tahun 2020 akan bertambah hingga mencapai angka 800 ribu orang.