(Taiwan, ROC) --- Keputusan otoritas Taiwan untuk memperbolehkan Amerika Serikat mengimpor daging babi dan sapi mereka, menimbulkan reaksi keras dari masyarakat.
Selain Amerika Serikat, wacana untuk mengimpor makanan dari Prefektur Fukushima di Jepang pun kembali menimbulkan reaksi pro dan kontra di dalam negeri.
Perwakilan Republik Tiongkok (ROC) untuk Jepang, Frank Hsieh (謝長廷), menyampaikan akan mematuhi hasil referendum dan dirinya berharap bahwa hal ini dapat disertai dengan bukti penelitian ilmiah.
Saat ditanya pendapatnya perihal impor daging babi dan sapi Amerika Serikat, Frank Hsieh menjawab bahwa ini merupakan konsensus global yang harus dipatuhi oleh komunitas internasional.
Dirinya juga mencontohkan sikap pemerintah Jepang yang menyetujui mengimpor produk daging babi dan sapi Amerika Serikat, dikarenakan ingin masuk ke dalam jenjang perdagangan bebas.
Alasan serupa juga berlaku di Taiwan. Jika ingin menjadi bagian dari komunitas global, maka ada beberapa ketentuan yang harus diikuti. Hal ini sedikit banyak akan melibatkan tarif perdagangan antar negara, yang mana menjadi bagian dari mekanisme internasional.
Jika tidak mengimpor produk dari negara lain, maka ditakutkan akan menghambat jalinan perdagangan dengan negara lain. Beberapa aturan dan kebiasaan harus diikuti oleh komunitas dunia, guna memperlancar pertukaran ekonomi di pasar bebas.
Gempa dahsyat yang terjadi di Jepang pada tahun 2011 silam, telah menghancurkan PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) Fukushima. Karena alasan bencana nuklir, otoritas Taiwan telah melarang untuk mengimpor makanan dari area Fukushima dan 5 wilayah lainnya di Jepang.
Larangan ini juga diloloskan sesuai dengan hasil referendum yang digelar pada bulan November tahun 2018 silam. Dalam referendum juga disebutkan, selama kurun waktu 2 tahun ini tidak diizinkan untuk mengimpor makanan dari 5 wilayah Jepang tersebut.
Otoritas Taiwan kini menghadapi masalah berikutnya, yakni apakah akan terus memberlakukan larangan tersebut, mengingat masa referendum akan berakhir pada tahun ini.
Saat ditanya oleh wartawan, Frank Hsieh menjawab dirinya tentu akan menghormati hasil dari pelaksanaan referendum silam.
Dirinya menambahkan, semua negara di dunia telah berkomitmen untuk menggunakan metode ilmiah dalam menjawab persoalan ini. Otoritas berwenang Taiwan juga telah meminta tim peneliti dalam negeri untuk melangsungkan proyek evaluasi terkait.
Jika hasil ilmiah terbukti tidak ada masalah, maka keputusan untuk mengimpor makanan dari 5 wilayah Jepang tersebut akan ditangani secara objektif.
Frank Hsieh melanjutkan, jika penanganan masalah ini ada baiknya tidak mencampuradukkan unsur atau kepentingan politik.
Dalam postingan di akun facebook pribadinya, Frank Hsieh menyampaikan bahwa instansi kesehatan Taiwan telah melakukan inspeksi acak selama 9 tahun. Dan dalam kurun waktu 9 tahuh tersebut, tidak ditemukan masalah dengan makanan Fukushima.
Masyarakat tentu memiliki kebebasan untuk membeli produk yang dijual di pasar. Penyelesaian polemik ini ada baiknya juga disertai dengan hasil penelitian objektif, sehingga lebih dapat diterima oleh komunitas internasional.
Apalagi dalam perundingan diplomatik, diperlukan bukti-bukti ilmiah untuk mengajukan penolakan. Ini merupakan konsensus yang harus ditaati oleh komunitas global, saat menjalin kerja sama dengan dunia internasional.
Frank Hsieh juga menyerukan keinginan Taiwan untuk bergabung dalam "Perjanjian Komprehensif dan Progresif Kemitraan Trans-Pasifik" (CPTPP) dan organisasi lainnya. Untuk mewujudkan keinginan tersebut, Taiwan membutuhkan dukungan dari negara-negara luar, termasuk Jepang. Dirinya berharap warga Taiwan dapat berpikir secara luas dan tidak mencampuradukkan dengan kepentingan golongan atau partai politik tertentu.