(Taiwan, ROC) – Presiden Tsai Ing-wen pada hari Rabu malam tanggal 12 Agustus menerima undangan dari Hudson Institute dan Center for American Progress (CAP), untuk mengikuti video konferensi yang mengambil tajuk “President Tsai Ing-wen Discusses the Diplomatic, Security and Economic Challenges Facing Taiwan”, yang khusus membahas tentang menjdikan Taiwan sebagai benteng perlindungan akan kebebasan di kawasan Samudra Hindia dan Samudra Pasifik.
Presiden Tsai Ing-wen dalam kata sambutannya menyampaikan bahwa semua negara di dunia saat ini tengah berada dalam kondisi berjuang melawan pandemi COVID-19, namun di sisi lain juga muncul sebuah kekuatan yang khusus memberikan pengaruh terhadap kelangsungan kebebasan dan asas demokrasi, mencoba untuk menjatuhkan mercusuar kebebasan, sehingga turut membuat diri menjadi sedih dan emosi. Selain itu juga dapat turut merasakan masyarakat dunia dalam mengambil aksi melindungi dan mempertahankan kebebasan yang nyaris sirna di Hong Kong. Untuk itu dirinya mengimbau agar semua negara-negara yang memiliki kesepahaman yang sama dapat bersama-sama berdiri dan secara lantang serta berani, menyuarakan kebebasan dan asas demokrasi.
Presiden Tsai Ing-wen menjelaskan bahwa Hong Kong telah menjadi sebuah contoh bukti kuat bagi Taiwan di kedepannya, khususnya kondisi kebebasan dan asas demokrasi yang sebelumnya dimiliki oleh Hong Kong. Kelak pada 4 tahun di kedepannya, pemerintah akan memanggul beban tugas yang lebih berat lagi di pundaknya, akan sangat berhati-hati dalam menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan antar selat, akan terus mempertahankan status-quo yang damai dan melindungi asas demokrasi serta kebebasan yang dimiliki oleh rakyat. Seperti apa yang sempat Presiden Tsai Ing-wen sampaikan saat memberikan pidato kepresidenan dalam inaugurasi di bulan Mei sebelumnya, bahwa pemerintah bertekad mempertahankan 4 prinsip dalam menjalani hubungan antar selat, antara lain meliputi perdamaian, keadilan, demokrasi dan interaksi komunikasi. Taiwan akan bersikukuh pada 4 prinsip tersebut dalam menjalankan berbagai kebijakan antar selat, sekaligus akan terus berupaya mencari jalan solusi dalam mempertahankan perdamaian dan menghindari berbagai hubungan buruk antar selat.
Presiden Tsai Ing-wen mengatakan, “Kami pikir, sejarah menyangkut hubungan antar selat dan koneksi dalam bidang kebudayaan, diyakini jika hubungan antar selat tetap dapat melakukan interaksi pertukaran dalam berbagai bidang yang sukses dan hasil yang dicapai, juga turut memiliki masa depan yang lebih baik lagi. Namun sebelum semua ini terjadi, maka kita harus benar-benar memahami dan melihat perbedaan yang ada di antara kedua belah pihak. Demokrasi di Taiwan sudah sangat matang, 23 juta penduduk yang ada, memiliki haknya dalam menentukan masa depan sebuah bangsa, dimana hal ini tentu berbeda dengan kondisi di Beijing.”
Presiden Tsai In-wen juga menyebutkan jika dalam masa pemerintahan periode yang keduanya, maka ia akan terus menjalin hubungan kerjasama dengan pihak Amerika. Adapun tugas pertama yang harus dilakukan adalah membangun hubungan yang saling menguntungkan dalam bidang keamanan antara Amerika dan Taiwan. Ia yakin dan percaya, jika hubungan Taiwan dan Amerika saat menghadapi masalah atau tantangan yang terjadi dalam kawasan, maka ke dua belah pihak akan mengambil solusi yang merupakan hasil kerjasama lintas instansi, lintas partai politik, dan akan ada pejabat skala tinggi yang menindaklanjuti masalah yang ada.