(Taiwan, ROC) – Seiring dengan merebaknya COVID-19 di berbagai negara di dunia, juga turut memberikan dampak pengaruh buruk terhadap usaha manufaktur makanan kaleng di Amerika. Merujuk kepada informasi yang didapatkan dari industri terkait, ada ribuan pegawai pabrik yang juga terserang virus. Sehubungan dengan penutupan pabrik manufaktur terkait, maka banyak hewan babi yang tidak dapat dijadikan sebagai bagian dari makanan kaleng, dan peternak hewan babi juga mengalami kondisi krisis yang selama ini tidak pernah ditemukan. Selain itu, ratusan babi yang ada di dalam peternakan juga akan dieutanasia.
Media Amerika NPR memberitakan bahwa Chad Leman, pengusaha ternak babi generasi ke tiga di kota Eureka di Illinois, saat melakukan sidak langsung ke peternakan menyampaikan bahwa ada puluhan hewan babi yang telah mencapai berat sebanyak 300 pound, telah siap untuk diantarkan ke tempat pemotongan.
Yang dimaksud oleh Chad Leman adalah mengirimkan hewan babi ke tempat pembuatan makanan kaleng, akan tetapi karena alasan keamanan kesehatan yang disebabkan oleh adanya petugas yang terserang virus, maka guna dapat menyisakan ruang tumbuh peternakan, hewan babi yang awalnya telah siap untuk diantar ke pabrik pengolahan makanan kaleng, terpaksa harus disuntik mati. Semua kondisi ini menjadi bagian yang harus dihadapi oleh semua pihak peternak.
Berdasarkan prediksi dari Jason Lusk, Dosen Purdue University, jumlah produk makanan kaleng di Amerika Serikat telah berkurang hingga mencapai 40%, dan mengakibatkan setidaknya 200 ribu ekor hewan babi terperangkap di dalam lokasi peternakan.
Di Amerika, jika hewan ternak yang telah hendak dipotong, untuk dapat terus menetap di dalam peternakan, bukanlah merupakan hal yang mudah, karena waktu perkembangan mereka sangatlah cepat. Setelah dilahirkan, seekor hewan babi akan menjalani proses pemeliharaan selama 6 bulan, jika bobot dan ukuran hewan ternak sudah melebihi batasan yang ada, maka akan sangat sulit untuk dimasukkan ke bagian pengalengan, yang mana pabrik pengelola makanan kaleng hanya mampu menerima hewan ternak dengan bobot tidak lebih dari 300 pound.
Sebelum pandemi COVID-19 merebak, rantai jaringan usaha peternakan babi, termasuk suplai dan permintaan pasar, saling bergantungan satu sama lain, dengan perhitungan waktu yang telah ditetapkan. Dalam kondisi umum, maka rantai jaringan yang telah ada tersebut akan dapat membuat produk manufaktur lebih efisien dan juga mengurangi jumlah modal pengeluaran, akan tetapi karena saat ini pihak peternakan harus menghadapi beban yang lebih berat, banyak pihak peternak yang tidak mengetahui bagaimana menjual hewan ternaknya di tengah melesunya permintaan pasar.
Sebenarnya banyak peternak yang enggan untuk membahas solusi eutanasia hewan, namun karena mempertimbangkan kondisi fungsi manufaktur makanan kaleng yang terus menurun, maka para peternak hewan babi di kawasan tengah dan barat Amerika, hal ini disebut sebagai sesuatu yang tidak dapat terelekkan, barulah mempertimbangkan langkah untuk mengatasi hewan babi yang tidak dapat dijual atau dipelihara terus.