(Taiwan, ROC) – Pemerintah terus melakukan upaya agar Taiwan dapat mengikuti rapat sidang majelis WHA yang akan digelar pada bulan ini. Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Chen Shih-chung melayangkan artikel tulisan kepada media Amerika dan menyampaikan bahwa Taiwan memiliki gerak langkah yang jauh di depan dalam tugas pencegahan penyebaran COVID-19, yang mana telah memberikan bukti yang nyata bagi dunia. Untuk itu dirinya mengimbau kepada seluruh masyarakat dunia internasional, agar dapat mendukung Taiwan untuk ikut serta bergabung dalam Organisasi Kesehatan Sedunia atau WHO.
Artikel Chen Shih-chung kali ini mengambil tajuk “Global health security -- a call for Taiwan's inclusion”, dan telah dirilis oleh media Daily Herald Amerika pada hari Kamis tanggal 7 Mei waktu setempat.
Chen Shih-chung menyebutkan bahwa setelah Taiwan sempat menghadapi ancaman epidemi SARS 17 tahun silam, Taiwan juga terus menghadapi tantangan dan ancaman penyakit menular jenis baru. Hingga tanggal 9 April, dengan berbasis data persentase pasien COVID-19 berbanding jumlah manusia per satu juta orang, Taiwan menduduki peringkat ke 123 dari 183 negara di dunia, dan hal ini menunjukkan kemampuan Taiwan dalam melakukan penanganan pencegahan COVID-19 yang efektif.
Berkenaan dengan perubahan pandemi yang terjadi di seluruh dunia, maka berbagai langkah dan upaya juga terus diperbarui oleh pihak pemerintah Taiwan, dengan turut menggunakan sistem digital dalam hal penyelidikan penyakit, memanfaatkan sistem GPS dalam hal pengontrolan kasus karantina mandiri di rumah, dan terus melakukan riset penelitian sesuai dengan perkembangan virus yang ada.
Chen Shih-chung menyebutkan bahwa masalah keamanan kesehatan dunia dibutuhkan kerjasama seluruh manusia, barulah dapat benar-benar mengantisipasi ancaman kesehatan publik yang ada. Taiwan meskipun bukan anggota dari WHO, namun sebagai salah satu bagian dari dunia, juga harus bersama-sama menjalankan tugas pencegahan dan menghadapi ancaman yang sama.
Taiwan sendiri telah menjalankan tugasnya sebagai salah satu bagian dari dunia, dengan turut memberikan laporan kasus positif terinfeksi COVID-19 kepada pihak WHO, melakukan kerjasama penelitian dan riset antisipasi penyakit dengan Jepang, Korea, Singapura, Malaysia, Filipina, Amerika Serikat, Kanada, Italia, Prancis, Swiss, Jerman, Inggris, Belgia, Belanda dan Pusat Pengendalian Penyakit Menular Eropa atau ECDC, berbagi pengalaman akan penanganan kasus terinfeksi, rekam jejak perjalanan pasien dan juga data informasi akan penanganan pandemi di kawasan batas negara.
Chen Shih-chung mengatakan, “Taiwan bersama dengan rekan partner kerjasama penanganan COVID-19, berupaya semaksimalnya dalam mengatasi ancaman penyakit. Mengurangi dampak pengaruh buruk akibat kurangnya komunikasi dan data yang transparan. Pihak WHO jika benar-benar hendak menjalankan fungsinya dalam hal memastikan adanya perlindungan kesehatan manusia, maka harus menetapkan standar yang tinggi, dan WHO membutuhkan Taiwan, sebagaimana mestinya Taiwan juga membutuhkan WHO.”
Chen Shih-chung menjelaskan bahwa Taiwan hendak berbagi pengalaman bidang medis publik, kedokteran dan sistem asuransi kesehatan dengan dunia, termasuk bidang riset penelitian rapid test kit, vaksin dan analisis virus. Akan tetapi, sangat disayangkan Taiwan dimarginalisasikan dari WHO.