(Taiwan, ROC) – Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin mengumumkan bahwa sejak tanggal 4 Mei mendatang akan memberlakukan pelongaran larangan namun bersyarat, dengan membuka kembali berbagai kegiatan perekonomian dan juga aktivitas masyarakat sehari-hari. Akan tetapi, semua kegiatan yang dilaksanakan tersebut, hendaknya mengikuti peraturan yang diberlakukan oleh instansi kesehatan setempat, dan sholat tarawih setiap Jumat juga masih tidak diizinkan.
PM Muhyiddin Yassin memberikan kata sambutan dalam salah satu kegiatan Hari Buruh, menyampaikan bahwa pelonggaran yang ada akan diberlakukan secara bersyarat bagi bidang industri dan berbagai kegiatan sosial masyarakat lainnya. Pemerintah mengizinkan masyarakat untuk tetap dapat bersantap dalam restoran, namun tempat duduk yang ada ditata sedemikian rupa, sehingga dapat memastikan adanya social distancing, sekaligus melakukan deteksi dan pencatatan data informasi milik warga, agar bisa dapat dijadikan sebagai bahan rujukan untuk dipantau ulang di kemudian hari.
Sementara untuk sekolah, SMA kejuruan dan universitas masih tetap ditutup, sementara untuk kegiatan pribadi, jamuan makan oleh pejabat dan kegiatan keagamaan, misalnya sholat 5 waktu yang biasa dilaksanakan oleh para umat Islam, masih dilarang. Selain itu, untuk lokasi hiburan publik, bioskop, KTV, pasar khusus lebaran, jamuan makan malam religious dan kegiatan keagamaan lainnya, masih tidak diizinkan.
Selain itu, untuk lokasi oleharga stadiun sepak bola, kolam renang umum, masih belum dibuka oleh pemerintah. Akan tetapi untuk jenis olahraga seperti badminton, tennis, sepeda dan golf, masih dipebolehkan selama masih mampu menjaga jarak aman antar sesama,
PM Muhyiddin Yassin menjelaskan bahwa bagi yang tidak berkepentingan, disarankan untuk tetap tinggal di dalam rumah, kecuali jika memang benar ada hal-hal yang memang mengharuskan warga untuk melakukan perpindahan lokasi tinggal.
Di Malaysia sendiri, per tanggal 30 April, tercatat ada 57 kasus baru positif terinfeksi, dan kini jumlah kasus COVID-19 sebanyak 6.002 orang, dengan angka kematian mencatat 102 kasus.