History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Obat Remdesivir Pertama Kalinya Disebut Gagal Menangani Pandemi Saat Riset Klinis Dilakukan

  • 25 April, 2020
  • 鄭蕙玲
Obat Remdesivir Pertama Kalinya Disebut Gagal Menangani Pandemi Saat Riset Klinis Dilakukan
obat Remdesivir (sumber foto: AFP)

(Taiwan, ROC) – Media Financial Times pada hari Kamis tanggal 23 April waktu setempat merilis sebuah artikel yang berbasis data informasi draft kasar yang sempat bocor dari pihak WHO, dimana disebutkan bahwa perusahaan Gilead Sciences Inc yang bergerak dalam bidang biomedis, untuk pertama kalinya hasil riset klinis obat yang diproduksi gagal dalam penanganan terhadap COVID-19.

 Sebegitu informasi bocor, saham Gilead Sciences Inc di bursa saham jatuh sebanyak 6%, dan transaksi segera dihentikan sementara.

 Dalam artikel tersebut dituliskan jika hasil riset penelitian yang dilakukan oleh pihak Tiongkok, disebutkan jika obat Remdesivir tidak memperbaiki kondisi kesehatan para pasien atau menurunkan kadar racun dalam darah.

 Merujuk kepada pemberitaan Media Financial Times, pihak periset melakukan penelitian terhadap 237 pasien penderita, dimana 158 di antaranya menggunakan Remdesivir dan 79 lainnya baru kemudian mengikuti penelitian yang ada. Selain itu, obat yang dipergunakan tersebut secara jelas telah memberikan efek samping yang sangat parah terhadap pasien penderita, dan ada 18 pasien yang diketahui terjadinya penolakan oleh antibodi terhadap obat Remdisivir.

 Awalnya banyak khalayak umum yang menaruh perhatian terhadap perusahaan Gilead Sciences Inc, karena hingga saat ini masih belum ada vaksin penanggulangan pencegahan COVID-19, juga belum ditemukan jenis pengobatan yang lolos uji. Selain itu banyak pakar medis yang juga berkeinginan untuk menemukan langkah penanggulangan terhadap proses mutasi yang terjadi pada virus korona. Adapun penyakit yang ditimbulkan oleh COVID-19 adalah pneumonia akut, dan mampu mengakibatkan kematian.

 Perusahaan Gilead Sciences Inc sendiri juga telah terus melakukan uji coba berbagai jenis obat yang diproduksinya, dan telah mengikutsertakan sebanyak 400 an pasien penderita akut, dan hasil akhir dari pengujian yang dilakukan tersebut akan diumumkan pada akhir bulan April.

 Obat Remdesivir sendiri sempat mengalami kegagalan fungsi pengobatan saat menghadapi serangan virus Ebola, dan saat ini tengah dipergunakan untuk menangani penyakit COVID-19. Adapun proses kerja obat Remdesivir adalah dengan jalan merusak mata rantai fungsi virus korona, sehingga virus tidak dapat hidup ataupun melakukan perusakan terhadap sistim kekebalan tubuh.

Komentar

Terbarumore