(Taiwan, ROC) – Seiring dengan semakin mengganasnya penyebaran virus korona yang juga dikenal sebagai COVID-19 di berbagai negara di seluruh dunia, untuk pekan ini Taiwan berhasil mencatat nol pertambahan kasus baru terinfeksi. Pakar ahli dari kelompok cendekiawan Amerika, Bonnie Glaser pada hari Jumat tanggal 17 April waktu setempat, secara khusus membuat sebuah rekaman video pendek, dan membahas mengenai keberhasilan yang dicapai oleh Taiwan dalam pandemi kali ini, sekaligus memberikan pujian berkenaan dengan penggunaan teknologi secara maksimal oleh pemerintah Taiwan, sehingga dapat mempercepat proses pencegahan yang tengah dilakukan.
Hingga kini, jumlah kasus positif terinfeksi di dunia telah mencatat angka lebih dari 2,2 juta orang, dan 150 ribu di antaranya kasus meninggal dunia, dengan mayoritas kasus terjadi di Amerika, yang mana jumlah kasus positif terinfeksi telah mendekati angka 700 ribu orang. Sementara untuk Taiwan sendiri, hingga kini ada sebanyak 395 kasus positif terinfeksi COVID-19, dan 6 kasus yang meninggal dunia. Taiwan sendiri, untuk pekan ini telah tiga hari berturut mencatat nol pertambahan kasus.
Berkenaan dengan kondisi yang ada, Kepala Bidang Program Riset Pertahanan Nasional Tiongkok dari Center for Strategic and International Studies atau CSIS, Bonnie Glaser, pada hari Jumat tanggal 17 April, melalui akun YouTubenya, menggunggah sebuah rekaman video pendek berdurasi 5 menit, yang membahas mengenai bagaimana cara Taiwan berhasil secara efektif dalam memerangi pandemi kali ini. Bonnie Glaser menjelaskan bahwa hanya ada beberapa negara di dunia yang dikategorikan berhasil melakukan pencegahan dengan baik, salah satu di antaranya adalah Taiwan.
Bonnie Glaser menyebutkan bahwa letak geografis Taiwan yang hanya berjarak kurang lebih 160,9 km dari Tiongkok, tentu akan memiliki persentase terkontaminasi yang sangat tinggi. Akan tetapi hingga tanggal 16 April, dari jumlah total penduduk Taiwan sebanyak 24 juta orang, tercatat sebanyak 395 kasus positif terinfeksi dan 6 kasus kematian. Bonnie Glaser menitikberatkan bahwa Taiwan bukan negara anggota dalam WHO, namun keberhasilan yang didapati oleh Taiwan, tentu sangat mengundang perhatian khalayak umum.
Terkait bagaimana langkah efektif yang dilakukan oleh Taiwan, Bonnie Glaser mengambil contoh saat kasus pneumonia aneh dilaporkan terjadi di kota Wuhan pada tanggal 31 Desember tahun lalu, instansi kesehatan Taiwan segera memulai tugas evakuasi penduduk Taiwan di Wuhan, memastikan jika para penumpang yang naik ke dalam peasawat evakuasi bergejala atau tidak, dan jika ada gejala sakit maka yang bersangkutan akan segera dikarantina.
Bonnie Glaser memaparkan bahwa saat merebaknya epidemi SARS di tahun 2003, telah turut menyalakan lampu peringatan bagi Taiwan, sehingga sejak saat itu, Taiwan mulai memperkuat tugas pencegahan penyakit menular. Oleh sebab itu, saat ada seorang wanita berusia 55 tahun yang memiliki gejala saat pulang dari Wuhan pada tanggal 20 Januari, pemerintah Taiwan juga segera menyalakan sistem program Pusat Komando Epidemi Sentral atau CECC.
Bonnie Glaser juga menjelaskan jika Taiwan sangat piawai dalam hal pemaduan penggunaan teknologi dalam tugas pencegahan pandemi kali ini, misalnya setiap penumpang yang baru tiba di bandara Taiwan, maka akan diminta untuk bisa melakukan sensor QR Code dan mengisi data kesehatan pribadi secara online, pemerintah juga menggunakan sarana GPS dalam telepon HP yang dimiliki oleh masing-masing individual untuk masalah pengontrolan mobilitas orang yang tengah berada dalam kondisi dikarantina atau dipantau, selain itu juga menggunakan data digital saat melakukan pelacakan terhadap orang-orang yang dikategorikan telah atau sempat melakukan interaksi dengan pasien positif terinfeksi. Langkah lain yang dilakukan oleh pemerintah Taiwan adalah membuka sarana telepon bebas pulsa untuk memberikan pelayanan konsultasi bagi masyarakat yang membutuhkan.
Berkenaan dengan masalah logistik barang keperluan medis, Bonnie Glaser menyebutkan saat pandemi pertama kali ditemukan di Taiwan, meskipun stok perlengkapan medis memadai dan mencukupi, akan tetapi pemerintah tidak lantas telah puas dengan kondisi yang ada, melainkan turut menggerakkan bantuan prajurit tentara dalam tugas manufaktur masker yang sangat dibutuhkan. Kini Taiwan mampu memproduksi sebanyak 17 juta lembar masker per harinya, dan mulai ada sebagian masker yang telah dihibahkan kepada negara-negara sahabat diplomatik, bantuan kemanusiaan bagi Amerika dan Eropa.
Meskipun hasil kerja yang diperlihatkan oleh Taiwan dalam hal pencegahan merebaknya pandemi COVID-19 sangat memukau, akan tetapi Taiwan tetap dimarginalisasikan oleh WHO, sehingga Taiwan harus terus melakukan berbagai tugas yang berat sendirian, hal ini dikarenakan tidak adanya data informasi yang seharusnya diberikan oleh pihak WHO kepada Taiwan. Taiwan hanya mengandalkan bantuan dari negara sahabat dan juga organisasi non pemerintah internasional yang ada, sehingga juga tidak dapat melakukan interaksi pertukaran pengetahuan akan medis terkait.
Terakhir, Bonnie Glaser menegaskan bahwa dengan sikap WHO yang mengesampingkan keberadaan Taiwan, yang berpenduduk sebanyak 24 juta jiwa tersebut, telah turut memberikan dampak buruk dan kerugian keamanan kesehatan dunia internasional.