(Taiwan, ROC) – Dewan Ekonomi untuk Afrika, Perserikatan Bangsa-Bangsa tanggal 17 mengutip laporan “Imperial College London” bahwa dalam keadaan terbaik sekalipun juga mungkin ada sekitar 300 ribu warga di Benua Afrika yang meninggal dan lebih dari 100 juta orang yang terinfeksi COVID-19.
Dalam laporan Dewan Ekonomi untuk Afrika di bawah naungan PBB (U.N. Economic Commission for Africa) membeberkan, dalam situasi paling buruk tanpa tindakan perlawanan dan pencegahan, kasus COVID-19 di benua Afrika akan memakan korban 3,3 juta orang meninggal dan 1,2 milyar orang terinfeksi.
Laporan ini mengemukakan, situasi terbaik dengan upaya keras penerapan “Sosial distancing” juga mungkin akan ada 122 juta orang di Benua Afrika yang terinfeksi virus Korona.
Para pakar memperingatkan, situasi apapun juga tidak dapat merubah banyak sistem kesehatan dengan perekonomian tidak memadai dan kebanyakan kaum rentan di Afrika. Laporan mengutip perkiraan Dewan Ekonomi untuk Afrika Persatuan Bangsa-Bangsa, dalam situasi yang paling baik, pengetesan, persiapan pencegahan pandemi dan biaya pengobatan membutuhkan US$ 44 milyar, jika dengan situasi terburuk membutuhkan dana US$ 446 milyar.
Hingga hari ini telah ada 18 ribu lebih kasus COVID-19 di Benua Afrika, tetapi pakar mengatakan, meskipun pandemi ini baru merebak di Afrika setelah beberapa pekan menyebar luas di benua Eropa, tetapi penambahan kasus terdiagnosis di Afrika kelihatannya akan lebih mencegangkan.
Benua Afrika dengan populasi 1,3 milyar jiwa baru mulai menghadapi serangan pandemi ini, dalam berita ini melaporkan, serangan pandemi di berbagai pelosok Afrika akan semakin memperparah situasi perekonomian, pada kondisi yang paling buruk mungkin akan mengakibatkan penyusutan tingkat pertumbuhan ekonomi sebesar 2,6%, diperkirakan akan ada 270 milyar penduduk yang terjerumus dalam kemiskinan. Bank Dunia menyampaikan, sub-Saharan Africa akan kembali menghadapi krisis ekonomi sejak 25 tahun terakhir.
Negara-negara di Benua Afrika menghadapi kekurangan pengetesan pandemi yang cukup besar, Ketua CDC Afrika, John Nkengasong beberapa hari lalu menyampaikan, untuk 3 atau 6 bulan mendatang Afrika membutuhkan 15 juta alat rapid tes COVID-19.