(Taiwan, ROC) – Media Kanada, iPolitics pada hari Jumat tanggal 17 April waktu setempat merilis sebuah artikel yang ditulis oleh Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Chen Shih-chung yang bertajuk “Pandemi COVID-19 lebih membuktikan bahwa keikusertaan Taiwan dalam WHO menjadi sebuah hal yang sangat penting”. Dalam artikel, Chen Shih-chung juga meminta WHO dan khalayak lainnya untuk dapat memberikan perhatian berkenaan dengan kondisi pencegahan pandemi dunia, kontribusi Taiwan bagi hak kesehatan seluruh masyarakat internasional, bersiteguh mendukung Taiwan untuk dapat ikut serta dalam keanggotaan WHO, sehingga Taiwan dapat berpartisipasi secara keseluruhan dalam setiap rapat WHO, sistem dan kegiatan yang digelar.
Dalam artikel Chen Shih-chung, juga menyebutkan bahwa ancaman yang diberikan oleh COVID-19 terhadap kesehatan seluruh manusia di dunia dan dampak besar terhadap industri perekonomian pariwisata. Dirinya juga mengambil contoh, misalnya trend flu Spanyol pada tahun 1918, epidemi SARS pada tahun 2003, tren flu musiman H1N1 pada tahun 2009, berlanjut dengan epidemi MERS pada tahun 2012 yang menyerang kawasan Timur Tengah, penyakit akibat virus Ebola di Afrika Barat pada tahun 2014, penyakit akibat virus Zika di Amerika tengah dan selatan pada tahun 2016. Semua penyebaran penyakit, semakin dipercepat dengan adanya kemudahan alat transportasi publik, misalnya maskapi penerbangan sipil, yang mana telah membuat kondisi kesehatan dunia harus menghadapi penderitaan yang tidak dapat dihindari.
Pada akhir tahun 2019, dilaporkan adanya penyakit sejenis pneumonia akut yang berasal dari kota Wuhan, Tiongkok, dan berlanjut dengan penyebaran di seluruh dunia. Hingga tranggal 8 April 2020, data statistik resmi yang dimuat dalam situs WHO, tercatat ada sebanyak 1.353.361 kasus positif terinfeksi, 79.235 kasus meninggal dan telah merebak hingga 211 negara dan kawasan di seluruh dunia.
Chen Shih-chung menjelaskan bahwa Taiwan yang memiliki pengalaman dalam hal pencegahan epidemi SARS sebelumnya, Taiwan harus menghadapi ragam ancaman penyakit menular selama 17 tahun terakhir. Taiwan selalu bersikap aktif dan tidak pernah menganggap remeh setiap penyakit yang tengah merebak ganas. Sedari 2 Januari, Taiwan telah membentuk tim khusus penanggulangan, kemudian dikembangkan menjadi Pusat Komando Epidemi Sentral (CECC) pada tanggal 20 Januari. Kondisi tugas pencegahan penularan juga dinaikkan menjadi level 1 pada tanggal 27 Februari. Semua langkah ini, dilakukan untuk meningkatkan tingkat efektivitas tugas yang dilakukan.
Hingga 9 April, jumlah kasus yang diperiksa di Taiwan tercatat sebanyak 42.315 orang, dan diketahui ada 380 an orang yang positif, di antaranya meliputi 54 kasus dalam negeri dan 326 kasus yang berasal dari luar negeri, dan 5 kasus meninggal.
Program lain yang diluncurkan oleh pemerintah Taiwan juga meliputi tata cara pembelian masker yang menggunakan sistem data nama resmi sesuai dengan kartu identitas kesehatan atau kartu menetap resmi di Taiwan.
Metode penggunaan teknologi dalam tugas pencegahan penularan pandemi COVID-19 juga dilakukan, misalnya dengan pemantauan orang yang diwajibkan mengikuti karantina atau isolasi mandiri dengan sistem GPS yang ada di dalam telepon HP masing-masing individual.
Kartu asuransi kesehatan nasional yang menggunakan sistem IC atau elektronik, memudahkan para petugas medis di garis pertama untuk mengetahui kondisi akhir dari sang pemilik kartu. Di waktu yang bersamaan, Taiwan sendiri juga telah mempersiapkan 50 an kawasan khusus untuk karantina mandiri dan juga pusat medis, dengan sebanyak 167 titik lokasi pemeriksaan uji sample, perawatan dan penanganan.
Per tanggal 6 Februari, juga diluncurkan program pembelian masker terbatas dengan merujuk kepada data kartu askes di apotek yang ditunjuk. Sejak tanggal 12 Maret, tata cara pembelian masker juga diperluas dengan pemanfaatan sarana internet bagi masyarakat, yang dilanjutkan dengan cara pembayaran dan pengambilan masker di toko waralaba yang terdekat yang dipilih oleh sang pengguna.
Chen Shih-chung menegaskan bahwa tugas pencegahan COVID-19 tidak ada batasan negara, sehingga kini menjadi pandemi dunia, maka tugas pencegahan menjadi tanggung jawab seluruh manusia di dunia, dan sebuah tantangan besar bagi dunia medis dan kesehatan internasional.