History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Pekerja pabrik migran gelar aksi protes meminta asrama dipindahkan ke luar kantor

  • 01 April, 2020
  • 陳志勇
Pekerja pabrik migran gelar aksi protes meminta asrama dipindahkan ke luar kantor
Pekerja pabrik migran gelar aksi protes meminta asrama dipindahkan ke luar kantor

(Taiwan, ROC) - Sekitar 50 orang dari suatu koalisi kelompok hak migran dan organisasi non-pemerintah, termasuk puluhan pekerja pabrik migran, mengadakan aksi protes di Taipei pada hari Selasa, menyerukan agar asrama pabrik dipindahkan dari tempat kerja demi keselamatan karyawan.

Para peserta yang berkumpul di luar gedung Kementerian Ketenagakerjaan (MOL) itu mengutip tiga insiden dalam beberapa tahun terakhir, di mana 11 pekerja migran dan enam petugas pemadam kebakaran tewas dalam kebakaran di pabrik-pabrik yang memiliki asrama di dalamnya.

Dalam insiden terbaru, tiga pekerja Vietnam, yang ditampung di asrama di lantai dua sebuah pabrik logam di Taichung, meninggal ketika pabrik itu terbakar pada 22 Maret.

"Akar masalahnya adalah ketika pabrik-pabrik itu terbakar, asrama-asrama juga turut terbakar karena mereka adalah bagian dari pabrik," kata Hsu Wei-tung (許惟棟) dari Jaringan Pemberdayaan Migran di Taiwan (MENT). "Untuk itu, kami menyerukan MOL untuk memberlakukan pemisahan asrama dari tempat kerja demi keselamatan pekerja migran dan petugas pemadam kebakaran."

Pada Desember 2017, enam pekerja migran Vietnam di Kota Taoyuan meninggal dalam kebakaran di pabrik pemroduksi kaca film kontrol surya, Sican Co., yang menelan asrama mereka di tingkat atas dari gudang pabrik yang terbuat dari besi.

Empat bulan kemudian, kobaran api di fasilitas yang dioperasikan oleh Chin Poon, sebuah pabrik papan sirkuit tercetak di Taoyuan, merenggut nyawa dua pekerja Thailand yang terperangkap di asrama di dalam pabrik dan enam petugas pemadam kebakaran saat melangsungkan upaya penyelamatan.

"Petugas pemadam kebakaran bergegas ke pabrik yang terbakar karena itu adalah tugas mereka untuk menyelamatkan jiwa," tutur sekretaris jenderal Asosiasi Nasional Hak Pemadam Kebakaran Chu Chih-yu (朱智宇) yang ikut serta dalam aksi protes. "Tetapi jika orang tidak tinggal di dalam pabrik, maka petugas pemadam kebakaran tidak perlu mempertaruhkan nyawa dan memasuki gedung yang terbakar."

Para pekerja migran pada aksi protes tersebut, mayoritas dari Indonesia, Vietnam dan Filipina, bersama dengan para pendukung Taiwan, meneriakkan slogan-slogan dan membakar dupa di sebuah altar sementara yang didirikan untuk mengenang mereka yang tewas dalam kebakaran pabrik.

Seorang pekerja migran Filipina, yang meminta untuk diidentifikasi hanya sebagai Arturo, mengatakan ketika dia bekerja di sebuah pabrik di Taoyuan tahun lalu, dia ditempatkan di asrama di ruang bawah tanah gedung dengan sembilan rekan kerja lain.

"Pernah ada gempa bumi dan kami merasa sangat takut karena hanya ada satu pintu keluar dari ruang bawah tanah. Bayangkan kalau terjadi kebakaran, kita semua pasti sudah terperangkap," kata Arturo, yang tangan kanannya putus akibat kecelakaan pabrik tahun lalu.

Namun, seorang pekerja Filipina lainnya mengaku bahwa keselamatan kerja bukan hanya merupakan tanggung jawab pemberi kerja, dan tidak ada jaminan bahwa karyawan pabrik akan aman walaupun asrama mereka berada di luar kantor.

"Saya pernah melihat ada pekerja memasak di kamar mereka, memasukkan sebanyak 10 adaptor daya ke satu outlet di dinding, dan membawa ponsel ke tempat kerja penuh dengan bahan mudah terbakar, padahal mereka tidak seharusnya melakukan hal tersebut," kata pekerja wanita itu, yang meminta tidak disebutkan namanya.

Menanggapi panggilan para pemrotes, Huang Wei-cheng (黃偉誠), seorang petugas Badan Pengembangan Tenaga Kerja mengatakan bahwa MOL berencana mengubah undang-undang untuk mewajibkan pabrik-pabrik yang memiliki asrama di lokasi untuk mengajukan laporan keselamatan, yang akan mencakup deklarasi zat piroforik atau gas yang mudah terbakar.

Undang-undang yang diharapkan akan selesai pada bulan Juni ini, juga akan menetapkan seberapa sering pemeriksaan keselamatan akan dilakukan di pabrik, demikian berdasarkan pernyataan yang dikeluarkan tidak lama kemudian oleh MOL.

Namun Hsu berpandangan skeptis tentang pemeriksaan keselamatan tersebut, mengatakan bahwa ada sekitar 100.000 asrama di seluruh Taiwan untuk pekerja migran, sementara jumlah inspektur yang bertanggung jawab untuk memeriksa kesejahteraan pekerja hanya berjumlah 274 orang.

Sekedar informasi juga, menurut statistik MOL hingga akhir Februari, tercatat ada 719.847 pekerja migran di Taiwan, dan 455.934 darinya dipekerjakan di sektor industri.

Komentar

Terbarumore