(Taiwan, ROC) – Hasil upaya pencegahan epidemic Taiwan menarik perhatian Perancis. Stasiun Radio Internasional Perancis RFI tanggal 12 dengan tajuk “Taiwan sebagai contoh antisipasi melawan COVID-19” menganalisa upaya pencegahan epidemi, menyampaikan bahwa kuncinya adalah “Respon yang cepat” dan “Transparansi dan semangat sipil”, sebagai yang diisolasi internasional jadi hanya bisa bergantung pada diri sendiri.
RFI menyampaikan, kemampuan Taiwan dalam menghadapi ancaman epidemi COVID-19 sangat bagus, selain karena belajar dari merebaknya epidemi SARS pada tahun 2003 dengan membentuk Pusat Komando Epidemi dengan mekanisme kesatuan antar kementerian, ada 2 kunci penting yaitu: pertama “Respon yang cepat” dan “Transparansi dan semangat sipil”.
Dalam laporan membeberkan kunci respon yang cepat di mana Taiwan mengambil keputusan yang cepat untuk membatalkan penerbangan dari Wuhan, Daratan Tiongkok yang dilanjutkan larangan sementara warga Daratan Tiongkok, Hongkong dan Macau masuk ke Taiwan, sedangkan warga Taiwan yang kembali dari kawasan epidemi atau transit harus menjalankan karantina rumah. Menerapkan pengelolaan kesehatan seperti pemeriksaan suhu tubuh, mengenakan masker, secara periodik melacak dan lainnya untuk mereka yang datang dari luar negeri dengan cakupannya cukup besar seperti dari Korea, Iran, Italia dan lainnya.
Dalam laporan juga mengungkit peraturan terkait masker mulut di Taiwan termasuk larangan ekspor dan penambahan jumlah produksi. Pakar politik Perancis, Stephane Corcuff ketika menerima wawancara RFI mengemukakan, pemerintah Taiwan bukan membagikan voucher masker mulut melainkan memberlakukan hari ganjil genap dan kartu asuransi kesehatan untuk pembelian masker mulut.
Selain respon yang cepat, Stephane Corcurff yang juga pengajar di Universitas Politik Lyon, Perancis juga mengungkit kebaikan “Sistem medis Taiwan” bahkan membeberkan tenaga berbakat medis unggulan, sistem asuransi kesehatan nasional, anggaran yang memadai untuk meningkatkan penelitian merupakan sumber investasi yang dapat diandalkan Taiwan.
Kunci kedua yaitu “Transparansi dan semangat sipil”, dalam laporan menyebutkan bahwa Taiwan menekankan pada informasi dan advokasi. Pierre-Yves Boubry dalam artikel yang diunggah di situs Kementerian Luar Negeri Republik Tiongkok memberikan penjelasan, Pusat Komando Epidemi juga kerap memberikan pesan pada saat terjadi epidemi flu biasa, memberitahukan masyarakat mengenai situasi sekaligus memberitahukan hal-hal yang patut diperhatikan, “ini yang membuat masyarakat merasa sangat aman”.
Pierre-Yves Boubry yang telah 12 tahun tinggal di Taiwan mengungkapkan, masyarakat menerima instruksi dari pemerintah untuk mengenakan masker mulut saat keluar rumah, ini memperlihatkan “Smangat sipil”. Pierre-Yves Boubry juga menyampaikan, perasaan dikucilkan dari dunia internasional, diabaikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia, seakan-akan memberitahukan bahwa Taiwan harus menghadapi dan menyelesaikan dengan bergantung pada kemampuan diri sendiri.