History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

La Liberation: Berkat Upaya Sendiri Taiwan Berhasil Menjadi Teladan Pencegahan Epidemi

  • 11 March, 2020
  • 譚雲福
La Liberation: Berkat Upaya Sendiri Taiwan Berhasil Menjadi Teladan Pencegahan Epidemi
La Liberation: Berkat Upaya Sendiri Taiwan Berhasil Menjadi Teladan Pencegahan Epidemi

        (Taiwan, ROC) – Setelah menuai pujian dari Mantan Kesehatan Prancis dan media Le Monde atas program pencegahan epidemi yang dilakukan oleh Taiwan, media La Liberation juga merilis sebuah hasil analisa berkenaan dengan meskipun Taiwan dimarginalisasikan oleh dunia internasional, namun berkat upaya kerja keras Taiwan sendiri, mampu menunjukkan kepada dunia akan kemampuannya melakukan tugas pencegahan epidemi yang ada.

        COVID-19 terus merebak di Prancis, hingga tanggal 9 Maret, jumlah pasien yang positif terinfeksi mencatat sebanyak 1.412 orang, bahkan Menteri Kebudayaan Franck Riester juga telah positif terinfeksi. Media Prancis La Liberation menggunakan tajuk berjudul “Taiwan menjadi pionir dalam perjuangan melawan virus COVID-19”, membeberkan hasil analisa akan berbagai program yang dilakukan oleh Taiwan dalam menghadapi epidemi COVID-19.

        Dalam artikel tersebut, dimulai dengan kalimat “Sebuah ajang bencana kesehatan yang tidak dapat dihindari”. Taiwan yang memiliki jarak hanya 120 km dari Daratan Tiongkok, ditambah lagi dengan adanya sebanyak lebih dari 1,2 juta pengusaha Taiwan yang berada di Daratan Tiongkok, banyak yang mengira, Taiwan akan menghadapi dampak pengaruh yang terbesar dan terparah dibandingkan dengan yang lainnya. Akan tetapi COVID-19 yang terus merebak hingga saat ini, hanya menyebabkan 48 orang positif terinfeksi dan 1 kasus meninggal dunia.

        Dalam berita tersebut disebutkan jika Taiwan yang tengah menghadapi situasi yang pelik, kini semakin menjadi sebuah teladan dalam hal penanganan pencegahan penularan epidemi. Dalam artikel juga disebutkan, kenyataan bahwa kesendirian Taiwan di dalam dunia internasional, malah semakin menjadikan Taiwan mampu melakukan pertahanan dan pencegahan yang lebih kuat, yang mana semua ini sangatlah bersifat paradoks. Salah satu pakar ahli yang khusus mempelajari hal tentang hubungan antar selat, Stephane Corcuff, mengatakan, “Taiwan di tahun 2002 dan 2003, saat menghadapi epidemi SARS, justru telah mengembangkan teknologi medis dan keamanan terkait.”

       Artikel juga menggunakan penggalan kalimat yang dituliskan di dalam media Jepang, Sankei Shimbun, yang saat itu melakukan wawancara khusus dengan Wakil Presiden Chen Chien-jen.

        Wakil Presiden Chen Chien-jen mengatakan, “Saat terjadinya epidemi SARS, Taiwan telah dimarginalisasikan oleh dunia dalam hal penanganan epidemi yang ada, kami berharap adanya alasan akan penyakit tersebut, cara pengecekan, persentase kematian dan informasi tentang cara pengobatan, namun tidak ada satupun yang mempedulikan kami.”

        Wakil Presiden Chen Chien-jen menjelaskan, “Selanjutnya kami melakukan pertukaran informasi dengan pakar yang ada di Jepang, belajar dari pengalaman yang dihadapi oleh Hong Kong dan Singapura. Saat itu pihak WHO masih bisa memberikan starin virus SARS kepada kami, maka kami mampu menghindari perkembangan merebaknya penularan penyakit di dalam rumah sakit.”

       Sejak tahun 2004, Taiwan membentuk Pusat Komando Epidemi Nasional atau NHCC, yang khusus mengkorodinasikan semua hal terkait bencana penyakit. Pada tanggal 20 Januari, Taiwan telah memasuki kondisi siap waspada, bahkan tugas pencegahan epidemi yang dilakukan, lebih dini dibandingkan Daratan Tiongkok.

        Adapun beberapa program yang diberlakukan dalam hal penanganan pencegahan epidemi COVID-19, pemerintah Taiwan memberlakukan larangan ekspor masker mulut, termasuk ke Daratan Tiongkok, dan sekaligus meningkatkan kemampuan manufaktur masker mulut jenis medis di dalam negeri. Taiwan dan Jepang, sama-sama memiliki kebiasaan mengenakan masker mulut, sehingga pada saat epidemi terjadi, penularan yang terjadi tidaklah sebesar yang diderita oleh negara lain.

        Selain itu, dalam waktu yang bersamaan, Taiwan juga tengah menggalakkan perang melawan berita hoaks, mengupayakan transparansi informasi kesehatan terkait. Di akhir artikel dituliskan, bersikap cepat tanggap, mandiri, dan diyakini meskipun dimarginalisasikan oleh WHO, namun Taiwan justru membuahkan hasil yang positif dalam hal perang melawan epdiemi.

Komentar

Terbarumore