(Taiwan, ROC) -- Epidemi COVID-19 yang terus merebak luas, salah satunya Jerman yang telah ada lebih dari 500 orang terinfeksi. Media Jerman mengemukakan, kecepatan dan keefektifan antisipasi Taiwan terhadap epidemi patut dicontoh oleh negara-negara lain.
Harian Der Tagesspiegel tanggal 6 Maret dalam laporan bertajuk “Bagaimana Belajar dari Taiwan”, penduduk Taiwan cukup padat dan hubungan dengan Daratan Tiongkok juga akrab, seharusnya Taiwan adalah negara dengan epidemi terparah setelah Daratan Tiongkok, tetapi jumlah kasus terinfeksi di Taiwan malah tidak banyak, hal ini membuat orang kagum.
Laporan mengungkapkan, persiapan Taiwan dalam menghadapi epidemi ini cukup baik alasan utamanya adalah National Health Command Center (NHCC) yang terbentuk setelah mengamuknya epidemi SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) pada tahun 2003, seluruh jajaran instansi Pusat Komando Epidemi dan lainnya dapat merespon dengan cepat, selain itu dibalik semua ini Wakil Presiden Chen Chian-ren yang melakukan instruksi memang sebenarnya adalah pakar penyakit menular.
Selain itu Taiwan sejak awal yaitu mulai 27 Januari telah memutuskan untuk memasukkan data perjalanan ke dalam kartu asuransi kesehatan nasional masing-masing warganya untuk memastikan warga yang pergi ke kawasan berisiko tinggi epidemi dalam kurun waktu 14 hari, berdasarkan sejarah perjalanan ini melakukan karantina, dan melakukan pemantauan melalui ponsel yang diberikan pada mereka yang dikarantina. Pemerintah juga mengambil alih dan mengelola pengalokasian masker mulut, menambah jumlah produk pakaian pencegahan epidemi dan masker mulut.
Dalam laporan membeberkan, meskipun respon Taiwan terhadap epidemi yang begitu cepat, lebih efektif dari negara-negara lainnya sehingga hal ini patut menjadi panutan, tetapi Taiwan disalahtafsirkan sebagai bagian Daratan Tiongkok yang merupakan kawasan berisiko paling tinggi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) sehingga Taiwan tidak bisa memperoleh bantuan internasional dan informasi dengan cepat dari WHO.
Elisabeth Heigl warga Jerman yang mengajar di Taiwan saat ini, dalam laporan wawancara oleh media Austria “Niederosterreichischen Nachrichten” tanggal 3 Maret juga mengungkapkan, informasi epidemi Taiwan transparan, dari pengalaman pahit epidemi SARS maka pelaksanaan pencegahan epidemi Taiwan ketat, masyarakat juga bekerja sama sehingga memiliki efektivitas pengendalian epidemi.