(Taiwan, ROC) – Hari Rabu sore tanggal 26 Februari, jumlah kasus COVID-19 di Taiwan diberitakan bertambah satu, mencatat total sebanyak 32 orang. Adapun kasus nomor 32 adalah seorang pekerja migran asal Indonesia yang berstatus “Kehilangan kontak” atau ilegal. PMI perempuan dengan inisial TL, berusia sekitar 30 an tahun, sebelumnya adalah perawat sementara untuk menjaga seorang kakek berusia 80 an tahun di dalam rumah sakit, yang juga adalah pasien positif terinfeksi COVID-19 dengan kasus bernomor 27. Sang kakek segera dirawat dalam ruang karantina sebegitu diketahui terdiagnosis virus. TL diketahui hanya bekerja sejak tanggal 11-16 Februari untuk menjaga sang kakek. Setelah kakek dimasukkan ke dalam ruang isolasi, maka pekerjaan menjaga kakek otomatis juga lenyap.
Setelah pihak Pusat Komando Epidemi Sentral (CECC) melakukan pemeriksaan dan pendataan orang-orang yang berinteraksi dengan sang kakek, barulah diketahui jika TL adalah salah satu bagian dari daftar orang yang harus melakukan isolasi khusus. TL yang diketahui adalah perawat kakek, segera dicari petugas, namun karena ia adalah pekerja ilegal, dirinya baru dapat ditemukan pada tanggal 24 Februari dan segera diantar masuk ke dalam ruang karantina khusus di rumah sakit. Hasil diagnosis diketahui positif terinfeksi per tanggal 26 Februari.
Melihat catatan waktu hari kerja dan membandingkannya dengan tanggal saat TL diisolasi, maka ada waktu jeda kosong yang sulit terdeteksi antara tanggal 17 hingga 24 Februari, yang tentu turut menjadi bagian yang rentan untuk tugas pencegahan epidemi COVID-19.
TL sendiri adalah seorang pekerja ilegal, tentu sudah kehilangan hak-hak nya sebagai seorang pekerja migran asing di Taiwan, selain itu dirinya juga telah terlepas dari tanggung jawab instansi yang berwenang. Meski demikian, pemerintah Taiwan masih akan tetap merujuk kepada sikap “Kemanusiaan”, untuk memberikan bantuan pengobatan, meskipun kini TL tidak lagi memiliki jaminan dari Kartu Askes Taiwan.
Sehubungan dengan epidemi COVID-19 yang telah dikategorikan sebagai penyakit menular berbahaya berskala penting, maka langkah penanganan dan pencegahan terhadap COVID-19 menjadi lebih ketat, termasuk penambahan berbagai peraturan baru yang diluncurkan oleh pemerintah Taiwan, dan berlaku bagi seluruh warga yang tengah berada di Taiwan, termasuk warga asing. Bagi yang diketahui melakukan pelanggaran, maka akan dikenakan sanksi denda sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Berkenaan dengan kondisi epidemi yang telah menghantui perasaan setiap orang yang ada di Taiwan, maka setiap hal yang diberitakan atau diumumkan oleh siapa saja di media publik, menjadi sangat sensitif dan masing-masing memiliki hukum dan peraturannya sendiri.
Dalam hal ini, ada satu hal menjadi bahan perbincangan khalayak umum, khususnya saat TL tengah berada dalam perawatan di ruang karantina rumah sakit. Pada hari Rabu tanggal 26 Februari, ia malah menggunakan aplikasi TikTok untuk membuat video dan mengunggahnya di akun media social Facebook. Video juga tersebar dengan cepat dalam dunia maya, bahkan telah dikirimkan ke pemerintah, agar dapat segera ditindaklanjuti. TL disebut telah mengunggah video yang berisikan data informasi terkait rumah sakit dan kondisinya. Hal ini dianggap telah membocorkan data informasi terkait masalah penanganan dan pencegahan epidemi COVID-19, yang harus dirahasiakan. TL kini tidak saja diketahui adalah seorang pekerja ilegal, juga adalah seorang penderita penyakit COVID-19 dan berkemungkinan masih harus menjalani proses hukum terkait masalah penggunggahan video TikTok nya.
Merujuk kepada data dari CECC, kasus nomor 32 adalah seorang perawat sementara. Instansi kesehatan terkait telah melakukan pelacakan rekam jejak kegiatan yang dilakukan oleh TL sejak tangga 17 hingga 24 Februari. Adapun orang yang sempat berinteraksi dengan pasien, seruangan dengan pasien atau perawat, dikategorikan sebagai daftar orang yang harus segera didiagnosis. Hingga berita ini diturunkan, adapun jumlah orang yang dapat diurutkan dalam daftar sebagai orang yang sempat berinteraksi mencapai 744 orang, dan 153 orang di antaranya telah dilakukan pemeriksaan, dan ditemukan ada 5 orang yang positif terinfeksi, yakni kasus nomor 28 hingga nomor 32, 141 orang yang diperiksa berada dalam kondisi negatif dan masih akan terus dipantau kembali.
Pada hari Kamis tanggal 27 Februari, Yuan Eksekutif telah menaikkan level pencegahan epidemi menjadi level satu, artinya adalah semua hal yang menyangkut pencegahan epidemi, harus mengikuti petunjuk dari Pusat Komando Epidemi Sentral (CECC), sementara posisi ketua CECC masih akan terus dilanjutkan oleh Menteri Kesehatan dan Kesejehateraan, Chen Shih-chung.