(Taiwan, ROC) – Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menyampaikan, terkait COVID-19 yang saat ini telah melakukan percobaan klinis 2 macam obat diperkirakan hari Rabu mendatang sudah bisa mengetahui hasil awal, mengenai Daratan Tiongkok mengubah metode diagnosis dua kali dalam kurun satu minggu membuat dunia luar meragukan dapat menimbulkan kekacauan informasi, WHO juga menegaskan tidak boleh lenggah menghadapi epidemi.
Sekjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam jumpa press tanggal 20 kemarin mengemukakan, WHO tengah menantikan hasil diagnosis klinis dari 2 pengobatan, diperkirakan bisa mendapatkan hasil awal pada hari Rabu mendatang.
Tedros Adhanom melanjutkan, yang pertama adalah perpadauan dari “Lopinavir” obat yang digunakan untuk mengobati penderita AIDS dan “Ritonavir”, obat lainnya bernama “Remdesivir” yang merupakan obat penangkal racun. Semakin awal mengetahui terinfeksi dan semakin cepat menjalankan pengobatan maka kemungkinan pulih akan semakin tinggi.
Mengenai berkurangnya jumlah pasien yang terinfeksi di Daratan Tiongkok, Tedros mengemukakan merupakan tendensi yang baik tetapi belum waktunya untuk menarik nafas lega apalagi lengah, karena meskipun kasus di luar Daratan Tiongkok tidak banyak tetapi yang perlu diperhatikan adalah perubahan yang terjadi.
Selain itu, Daratan Tiongkok melakukan 2 kali perubahan metoda diagnosis dalam kurun waktu seminggu, tanggal 13 Februari bertambah 10 ribu lebih kasus, Daratan Tiongkok menyampaikan hal ini karena menambahkan “diagnosis klinis” ke dalamnya, apabila terdeteksi melalui Tomografi Komputer (CT) adanya karakteristik virus Korona meskipun dalam pengetesan negatif maka akan dimasukkan dalam pasien “diagnosis klinis” dengan tujuan untuk pemisahan dalam upaya pencegahan penyebaran.
Namun pada tanggal 20 Februari kemarin Daratan Tiongkok kembali menggunakan diagnosis standar, membatalkan penggunaan diagnosis klinis karena beranggapan penggunaan diagnosis standar adalah hal yang bijaksana, memanfaatkan peningkatan kemampuan deteksi asam nukleat, setelah para pakar membahas hal ini maka standar diagnosis klinis dibatalkan. Perubahan metode diagnosis dua kali dalam seminggu ini membuat masyarakat dunia meragukan apakah data statistik epidemi yang dilaporkan dapat dipercaya.
Terkait dengan Daratan Tiongkok kembali merubah metode diagnosis, WHO dalam laporan tanggal 20 Februari malam tidak memberikan penjelasan, hanya mengungkit Daratan Tiongkok merevisi pedoman klasifikasi kasus, membatalkan klasifikasi diagnosis klinis sebelumnya dan kasus yang dikorfirmasikan juga memerlukan konfirmasi laboratorium.