(Taiwan, ROC) - Lebih dari 40 kelompok sipil akan berdemo di Taipei pada hari Sabtu, 22 Februari, untuk memperingati 73 tahun Insiden 228, suatu peristiwa kerusuhan rakyat yang berawal pada 28 Februari 1947 dan berubah menjadi penumpasan brutal.
Kelompok-kelompok itu, termasuk Yayasan Peringatan Dr. Chen Wen-chen, TW Gong Sheng, Asosiasi Hak Asasi Manusia Taiwan dan Jaringan Hak Asasi Manusia untuk Tibet dan Taiwan, meminta anggota masyarakat untuk berpartisipasi sehingga dampak insiden itu pada masyarakat Taiwan tidak dilupakan.
Menurut jadwal, peserta kegiatan akan berbaris melewati situs-situs yang terhubung dengan insiden itu, termasuk Tianma Tea House, bekas gedung cabang Biro Monopoli Taipei (sekarang cabang Taipei Bank Chang Hwa), bekas Stasiun Penyiaran Taipei (sekarang Museum Memorial 228 Taipei), dan berakhir di Kantor Kepala Eksekutif Provinsi Taiwan (sekarang gedung Yuan Eksekutif) di Distrik Zhongzheng.
Li Ssu-yi (李思儀), ketua TW Gong Sheng, sebuah kelompok pemuda yang berdedikasi untuk memperingati Insiden 228, mengatakan aksi demo ini bertujuan untuk mengenang pengorbanan yang dilakukan oleh orang-orang yang berperang melawan pemerintahan otoriter.
"Kami menolak untuk melupakan dan bertekad meneruskan semangat dari apa yang mereka perjuangkan melalui kegiatan tahun ini," katanya, seraya menambahkan bahwa kebebasan yang dinikmati di Taiwan hari ini adalah hasil perjuangan dan pengorbanan jiwa banyak orang.
Insiden 228 dipicu oleh bentrokan antara pejabat Biro Monopoli dan penjual rokok di Taipei pada 27 Februari 1947. Para pejabat memukuli seorang pedagang di depan Rumah Teh Tianma. Rakyat yang emosional kemudian mulai berkumpul dan salah satu darinya tewas terbunuh ketika salah satu pejabat melepaskan tembakan. Protes berlanjut ke hari berikutnya dan berkembang menjadi kerusuhan anti-pemerintah di seluruh Taiwan yang secara brutal dibantai oleh pemerintah Kuomintang (KMT) pada saat itu.
Banyak orang meninggal dalam insiden ini. Tahun 1992, sebuah laporan Yuan Eksekutif memperkirakan 18.000-28.000 orang, banyak dari mereka adalah anggota elit intelektual, tewas dalam penumpasan yang berlangsung selama beberapa minggu hingga awal Mei.
Segera setelah pembantaian 228, Taiwan memasuki era yang dikenal sebagai "Teror Putih," di mana pembangkang politik ditekan, dipenjara dan dibunuh. Era Teror Putih berlangsung hingga pencabutan darurat militer di Taiwan pada tahun 1987.