(Taiwan, ROC) – Media AFB pada hari Selasa tanggal 28 Januari, memberitakan jika pihak Amerika mengundurkan diri dari rapat damai dengan kelompok pembangkang ekstremis Taliban yang berada di Afghanistan, serta terus meningkatkan serangan terhadap kelompok tersebut. Merujuk pada data statistik yang diluncurkan oleh US Air Forces Central Command, jumlah rudal yang ditembakkan ke Afghanistan pada tahun 2019, telah mencatat rekor terbanyak selama kurun waktu 10 tahun terakhir ini.
Adapun data yang diumumkan oleh US Air Forces Central Command, hanya berupa data untuk tahun 2019 saja, dan rudal yang dijatuhkan dengan sasaran Afghanistan total berjumlah 7.423 buah.
Sejak Amerika menghadapi serangan teroris pada tanggal 11 September 2011, satuan militer Amerika juga telah memasuki kawasan Afghanistan dan berbagai pertempuran terjadi antara satuan militer Amerika dengan beberapa kelompok garis keras yang berada di kawasan setempat.
Jika melihat data yang diumumkan tersebut, menandakan jika pihak Amerika telah menambah jumlah serangan terhadap Afghanistan, yang mana hal ini bukan hanya saja terjadi pada era masa pemerintahan Obama di tahun 2009, dimana saat itu jumlah rudal yang dijatuhkan dengan sasaran Afghanistan adalah sebanyak 4.147 buah.
Sejak Donald Trump memenangkan pemilu presiden Amerika pada tahun 2016, telah mulai melancarkan aksi penyerangan terhadap Afghanistan, selain itu pihak Gedung Putih juga telah menghapus sistem pelacakan atau pengintaian terhadap masyarakat umum sebelum rudal dijatuhkan, yang awalnya dimaksudkan untuk menghindari jatuhnya korban khalayak umum.
Seiring dengan semakin banyaknya penyerangan yang dilakukan oleh pihak Amerika maupun pihak satuan militer Afghanistan terhadap beberapa kawasan di Afghanistan sendiri, telah mengundang perhatian dari pihak PBB, yang tentu saja sangat mengkhawatirkan jatuhnya korban masyarakat umum atau warga yang tidak bersalah.
Berdasarkan data dari PBB, pada paruh awal tahun 2019, penyerangan yang dilakukan oleh satuan militer yang berada di bawah kepemimpinan pemerintah Afghanistan yang baru, termasuk Amerika Serikat, telah mengakibatkan sebanyak 717 warga meninggal dunia, naik 31% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Dalam laporan juga disebutkan mayoritas kematian disebabkan akibat serangan rudal dari udara yang dilakukan oleh pihak Amerika dan pemerintah Afghanistan, yang mana semua serangan adalah hanya demi memberikan bantuan pertahanan bagi para pasukan angkatan darat pemerintah Afghanistan.
Penambangan upaya penyerangan terhadap kelompok Taliban justru dilakukan tepat pada saat pembahasan negosiasi tengah akan dilakukan, sehingga menyebabkan kondisi pembahasan perdamaian berjalan tersendat-sendat.
Kondisi pembahasan tersebut telah berjalan selama hampir 1 tahun, dan awalnya pada bulan September tahun lalu, kesepahaman nyaris tercapai, namun karena adanya serangan militer yang dilakukan oleh pihak kelompok Taliban, dan mengakibatkan 1 prajurit Amerika meninggal dunia, maka hal tersebut memicu emosi Presiden Donald Trump, yang kemudian mengakibatkan kesepahamanpun menjadi “Mati tegang”.