(Taiwan, ROC) Kantor Berita Perancis (AFP) memberitakan, Daratan Tiongkok berupaya keras melawan virus yang kian merambat, hal ini memicu kekhwatiran masyarakat dunia. Kemarin (27/1) dilaporkan kasus penderita pneumonia koronavirus meninggal dunia di Ibukota Beijing, masing-masing negara sibuk mengatur masyarakat yang berada di Daratan Tiongkok untuk dipindahkan ke pusat evakuasi.
Media mengemukakan, laporan Beijing untuk penderita yang terjangkit novel koronavirus (2019-nCoV) dan meninggal dunia telah mencapai 82 orang, untuk jumlah keseluruhan yang terinfeksi virus ini ada lebih dari 2.700 orang.
Sementara di luar Daratan Tiongkok, telah tersebar meluas ke 12 negara, mencakup Kanada dan Sri Langka didapati kasus penderita terinfeksi pertama.
Pihak AS memberikan peringatan waspada untuk melakukan perjalanan ke Daratan Tiongkok, rambu peringatan waspada ditinggikan hingga ke level 3, mengimbau agar warga dapat mempertimbangkan lebih saksama sebelum bepergian, serta meminta warga tidak menuju ke kawasan terinfeksi yakni provinsi Hubei. Sementara Mongolia memblokir mobil yang datang dari Daratan Tiongkok.
Perdana Menteri Li Ke-qiang kemarin (27/1) menuju ke lokasi terinfeksi Wuhan, untuk memantau upaya penanggulangan bencana ini.
Guna menghindari penyebaran epidemi ini pihak Daratan Tiongkok telah memblokir kota Wuhan dan provinsi Hubei, hal ini menyebabkan puluhan juta warga terisolasi termasuk ribuan warga asing di dalamnya.
Selain itu, liburan imlek hingga 30 Januari diperpanjang 3 hari lagi, untuk mengendalikan penyebaran virus ini maka membatasi warga untuk melakukan perjalanan.
Berdasarkan sumber informasi, laporan Beijing korban yang tewas akibat terjangkit koronavirus adalah pria yang berusia 50 tahun, pada tanggal 8 Januari berangkat ke kawasan terinfeksi Wuhan, tinggal beberapa hari kemudian kembali ke Beijing dengan gejala panas demam, pada tanggal 22 Januari didiagnosis terjangkit koronavirus (2019-nCoV), pada tanggal 27 Januari meninggal dunia.
Pihak AS kemarin (27/1) menaikkan rambu peringatan wisata hingga level ke-3, diprakirakan pada hari Selasa ini (28/1) ada pesawat khusus menuju ke bandara internasional Tienhe Wuhan untuk menjemput diplomat dan warga AS.
Turki dan Jerman mengimbau agar warganya menghindari bepergian ke Daratan Tiongkok, sementara Malaysia menolak menerima wisatawan yang berasal dari provinsi Hubei.
Bahkan Mongolia dengan ekonomi yang sangat bergantung dengan Daratan Tiongkok, juga telah menutup arus masuk mobil dari Daratan Tiongkok dan membatalkan agenda sekolah yang dijadwalkan hingga tanggal 2 Maret, serta memberhentikan semua kegiatan massa.
Perancis telah merencanakan penjemputan warganya di Wuhan demikian juga Jepang. Belgia, Bangladesh dan Spanyol semuanya mengatakan, sedang dalam upaya evakuasi ke tanah air, sementara pihak Jerman masih mempertimbangkannya.