History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Media Jerman: Penyakit Pneumonia Menguji Otoritas Pimpinan Daratan Tiongkok

  • 25 January, 2020
  • 曾秀情
Media Jerman: Penyakit Pneumonia Menguji Otoritas Pimpinan Daratan Tiongkok
Media Jerman: Penyakit Pneumonia Menguji Otoritas Pimpinan Daratan Tiongkok

(Taiwan, ROC) – Epidemi penyakit Pneumonia Wuhan masih terus meluas, ada media Jerman yang menyampaikan bahwa kondisi epidemi kali ini tidak semata menguji atau mengancam otoritas pemerintah setempat, juga akan menguji sikap agresif yang dimiliki dalam sistem komunis Daratan Tiongkok, sekaligus sikap agresif pimpinan Daratan Tiongkok yang hendak menjadi pemimpin dunia.

     

Media Jerman, Suddeutsche Zeitung, dalam laman “Kritik dan diskusi” menyebutkan jika bencana alam apapun atau masalah sanitasi dan keamanan produk makanan, apakah pihak masyarakat umum mengetahui keputusan yang diambil oleh pimpinan tertinggi Daratan Tiongkok, semua ketidakpastian tersebut, akan memperkuat rasa curiga yang dimiliki oleh rakyat dan juga perasaan tidak nyaman. Semua hal ini tentu akan menguntungkan penyebar rumor dan juga berkembangnya pemikiran konspirasi.

     

Dalam artikel juga disebutkan jika pihak pimpinan tertinggi Daratan Tiongkok yang memegang kendali dalam pengambilan keputusan politik. Sikap ketidakacuhan berhari-hari yang dilakukan oleh badan otoritas setempat, Pimpinan Dartaan Tiongkok Xi Jin-ping mendadak mengumumkan jika hendak menggunakan jalur transparansi dalam menghadapi masalah epidemi, hal ini tentu akan membuat setiap pemerintah daerah tidak sempat melakukan perubahan sikap. Hal yang sangat jarang ditemukan sebelumnya, tentu difungsikan untuk melindungi posisi Xi Jin-ping, dan ada orang bawahan lain yang harus memikul resiko kesalahan. Kondisi epidemi kali ini juga jelas telah mengancam keutuhan otoritas yang dimiliki oleh pemimpin Daratan Tiongkok.

     

Dalam artikel juga ditulis, jika usai Xi Jin-ping memberikan pidatonya, banyak pejabat yang terkejut dan kalut, karena cara pengentasan masalah epidemi dinilai kehilangan langkah dan tatanan yang searah, yang kemudian akan berkelanjutan dengan kecemasan di kalangan masyarakat sendiri. Pemerintah daerah setempat juga banyak yang mengakui jika pihaknya cemas dan khawatir, karena cara pengentasan masalah telah mengalami kebocoran di tahap pertama. Hal ini juga membuktikan jika negara yang memiliki kawasan sangat luas, saat terjadi kesalahan dalam pengambilan keputusan atau pengontrolan masalah, akan berkelanjutkan dengan ancaman yang sesungguhnya bagi para pejabat tingkat tinggi di kawasan Laut Tiongkok Selatan.

     

Selain itu, untuk penyakit Pneumonia Wuhan yang terus merebak, juga telah turut menjatuhkan nama baik atau kredibilitas Daratan Tiongkok dalam panggung internasional. Dengan Program “One Seat One Belt” yang hendak memberikan pengaruh kepada dunia internasional, termasuk mempengaruhi berbagai organisasi internasional, maka pengentasan masalah epidemi tentu harus disesuaikan juga dengan standar internasional. Oleh sebab itu merebaknya epidemi Novel Koronavirus Baru 2019 di Wuhan, akan menjadi sebuah uji coba besar bagi pimpinan Daratan Tiongkok yang hendak mengambil peran sebagai pemimpin dunia.

     

Yang terakhir, dalam artikel juga disebutkan jika setiap kali menemukan masalah, maka pihak internal atau pihak komunis Daratan Tiongkok juga kerap menemukan kondisi bagaimana cara menghadapi kesalahan yang dilakukan. Jika mengaku kesalahan, artinya mengaku jika diri sendiri lemah dan tidak berdaya. Namun sebuah sistem raksasa yang menyebut dirinya sebagai sebuah sistem yang tidak dapat tergantikan, tentu tidak bisa pasrah menyerah begitu saja. Oleh sebab itu dalam masalah merebaknya penyakit Pneumonia Wuhan kali ini, juga turut akan memberikan perubahan, khususnya ancaman terhadap pimpinan Daratan Tiongkok.

     

Media di Berlin, Die Tageszeitung menyebutkan jiika Dewan Pimpinan Pusat Daratan Tiongkok, memiliki sebuah perubahan persepsi yakni “ Jika sebelumnya selalu memandang muka para politikus jauh lebih penting dibandingkan dengan masyarakat umum, maka kini akan hal tersebut akan menyandang predikat sebagai sang pembuat dosa bagi partai dan pihak public”. Dengan adanya perubahan persepsi seperti ini, maka dapat dilihat jika pihak Daratan Tiongkok saat menghadapi serangan penyakit SARS 17 tahun silam, telah memetic sebuah pelajaran yang berharga, dan kali ini barulah melakukan perubahan cara mengatasi masalah epidemi dengan langkah yang tranparansi.

Namun, dalam artikel juga mengemukakan guna melindungi otoritas pemerintah, sistem pengoperasian kendali kekuatan pemerintah masih tetap dilakukan pengontrolan, perbaikan pandangan dan mematuhi keputusan dari pusat. Sehingga apa yang disebut sebagai jalan transparansi tersebut, tidak sedikit menuai kecurigaan publik.

Komentar

Terbarumore